Review: Blackbox (@RachelTjhia)

Sejujurnya, saya tidak pernah sebegitunya menyukai lagu-lagu “idol”.  JKT48, misalnya.  Selain Heavy Rotation yang sangat ikonik dengan lirik “i love you, i want you,” saya bisa dibilang tidak tahu sama sekali lagu-lagu mereka.  No offense to you who does love them, tho.  They are great performers. :)

BTW,
Pertengahan bulan Juli, teman-teman dari Happy Kingdoms Inc. membuat sebuah acara, HKFest, di mana para idol-idol ini men-showcase performa mereka: dari kemampuan bernyanyi, MC, hingga fan servicing.  Sekali lagi, dari nama-nama yang tampil, saya tidak pernah dengar sama sekali.  Apparently, pengetahuan saya tentang idol dan idol group di Indonesia sangat minim.  Tapi ada satu nama yang cukup familiar: Rachel Florencia.  Beberapa kali jadi penyiar tamu di acara salah satu radio di Jakarta, dan sering kali tampil bersama teman saya Rangga, membuat nama ini tidak asing bagi saya.  Maka, ketika Mario (@fxmario) men-twit sebuah link tentang pembelian CD-nya, saya tertarik mencoba.  Pembelian dilakukan melalui sebuah marketplace, pembayarannya mudah, dan pengirimannya cukup cepat.  Overall: proses pembelian berjalan lancar.  Paling tidak, setengah langkah sudah selesai dengan baik.

Next, saat melihat CD-nya, saya langsung teringat dengan gambar-gambar manga.  Tebakan pertama saya: pasti lagunya jejepangan.  Lanjut ke judul-judulnya: “Overture (Turbulence)”, “Blackbox”, “1000 Tahun Cahaya”, “Sisa Ceritaku”, dan “Edna’s Music Box”.   Entah mengapa, saat membaca judul-judul ini, saya merasa sedikit janggal.  Bahasa Indonesia, bercampur Bahasa Inggris.  Juga, ada dua kata Box di sana.  Apakah Blackbox (kotak berwarna hitam) itu sebenarnya Kotak Musik milik Edna?  Oke, mungkin saya berlebihan.  Perasaan berikutnya adalah penasaran, karena paling tidak ada tiga pertanyaan utama: kenapa 1000 tahun cahaya?  Kenapa Blackbox?  Dan siapa Edna?

So, dig in, we shall!

Overture (Turbulence): lagu ini hanya instrumental, dan berhasil mengawali CD ini dengan permainan string section yang terdengar sangat grande, dan di beberapa bagian terdengar sentuhan yang sangat fairytale-ish.  Sejujurnya, saya kurang paham kenapa ada lagu ini, karena kurang nyambung dengan lagu keduanya.  Beda dengan lagu pertama di album Mylo Xyloto milik Coldplay, misalnya.  Saking “flawless”-nya perpindahan dari instrumental lagu pertama dengan lagu kedua, saya yakin sebenarnya ini adalah lagu yang sama, tapi di-cut seenaknya.

Blackbox: Awal lagu ini agak mengganggu saya, karena saya bersiap-siap untuk lagu upbeat, tetapi dipotong tiga kali sebelum benar-benar masuk ke flow lagu, dan dua kali di antaranya adalah total silence.  Keren sih ada silence-silence gitu, tapi untuk awal lagu kayaknya agak janggal aja. Lagunya ceria sekali, dan suara Rachel sangat “empuk” (bingung harus pakai kata apa) untuk lagu ini.  Suaranya tinggi khas remaja putri, cocok dengan keceriannya.  Dan akhirnya saya tahu kenapa lagu ini dijuduli “Blackbox”.  Analogi yang bagus, dan kalimat penutup chorusnya sangat-sangat catchy.

Seribu Tahun Cahaya: Saya pernah melihat versi live dari lagu ini, meskipun hanya cuplikan.  Saya yakin lagu ini enak.  Dan ternyata, saya benar.  Lagu ini enak, dan rasanya sangat cocok dijadikan OST Anime (yang sudah di-dubbing Indonesia, tentu saja; kecuali Rachel membuat versi Jepangnya).  Saya sedikit terganggu dengan pemotongan suku-suku katanya, tetapi sepertinya ini jamak terjadi di kalangan para idol, ya?  Contoh: “meski de-daunan musim gugur me-nutupi taman ini – mataku takkan ber- kedip”.  Mungkin seharusnya tidak mengganggu bagi kebanyakan orang, tetapi buat saya sedikit mengganggu. Soal selera, mungkin.

Sisa Ceritaku: Lagunya cukup mellow, tetapi dengan aransemen full band-nya, tidak terlalu terkesan sedih.  Lebih seperti lagu “acceptance” bahwa sebuah cerita sudah berakhir.  Lagu ini mengingatkan saya pada lagu-lagu penutup di Anime (iya, kalau Seribu Tahun Cahaya tadi lagu opening, ini lagu ending).  Yang saya salutkan adalah, lagu ini memiliki beberapa progresi yang mengejutkan untuk saya.  Sama sekali bukan lagu yang sederhana, meskipun terdengar paling “pop” dibanding lagu-lagu lainnya.

Edna’s Music Box: Ternyata, ini lagi-lagi adalah sebuah lagu instrumental.  Dengan gaya music box, seperti tergambar pada judulnya, lagu ini berisi petikan singkat dari lagu Seribu Tahun Cahaya, kalau saya tidak salah dengar.  Lagu ini seolah menjadi statement bahwa lagu Seribu Tahun Cahaya adalah “core” dari album ini.  Sebenarnya saya kurang paham kenapa harus ada dua lagu instrumental pendek dalam satu CD, tetapi mungkin untuk alasan keseimbangan CD saja (diawali dan diakhiri instrumental).

Overall, CD ini cukup menyenangkan untuk didengar.  Jika akan dikembangkan jadi sebuah album full, saya akan sangat tertarik untuk mendengar lebih jauh.  Tentunya dengan adanya lagu-lagu yang berbeda-beda dinamika, akan semakin seru untuk dinikmati.

Kudos untuk Rachel!

Yes, I Started Investing!

Yap,

akhirnya, setelah sekian lama berpikir, mempertimbangkan, dan mencari informasi, gue memutuskan untuk berinvestasi. Iya, investasi, bukan menabung.

Emang beda? Apa sih bedanya?

Okay, sejujurnya, sebelum gue ngobrol-ngobrol dengan Mbak Ligwina Hananto (@mrshananto), gue nggak tau sama sekali tentang investasi.  Gue tau ada grafik-grafik saham yang menunjukkan indeks atau nilai saham, tapi itu pun karena ada di halaman koran yang persis berlawanan dengan bagian olahraga.  Tapi karena beliau selalu tanpa kenal lelah men-twit mengenai investasi dan pentingnya mengatur keuangan sendiri, gue akhirnya semakin dan semakin tertarik. Dan akhirnya gue tertarik, lalu gue set ketemuan dengan Mario (salah satu “sales” dari QM Financial, perusahaannya Mbak Ligwina).

Setelah dua kali meeting, gue memutuskan menggunakan jasa financial advisory dari QM Financial.  Dan setelah itu, selama tiga kali meeting, gue “di-drill”, harus ngerti minimal dasar-dasar berinvestasi, membedakan saham, reksadana, pasar uang, dll, bahkan sampai di-tes, profil risiko gue gimana (apakah risk taker, atau konservatif) untuk akhirnya menentukan produk yang mungkin lebih cocok dengan gue.

OH! Ada satu bagian yang menurut gue paling “worth it” – financial check up.  Gue tau banyak artikel yang bisa ditemukan di Google dengan judul kira-kira “cara mengetahui apakah keuanganmu bermasalah” atau sejenisnya, tapi having a professional do it, is a whooooooole different thing.  Cuma tinggal isi-isi excel document, lalu ketauan lah sebenarnya uang kita ke mana, perlu berapa, dll.  Honestly, ini pertama kalinya gue bener-bener mikirin kata-kata seperti “dana pensiun”, “dana darurat”, dll.

Di bagian ini, adalah bagian yang “terpenting” dalam keseluruhan proses: menentukan rencana finansial.  Gue memberikan beberapa “goal” dan “deadline”-nya.  Misalnya: Gue mau punya mobil dalam waktu 2 tahun, dan rumah dalam waktu 4 tahun.  Maka, dengan data dan informasi yang sudah dimiliki, gue dan Mbak Wina mendiskusikan cara mencapainya.  CONTOH: untuk membeli mobil seharga 200 juta dalam 2 tahun, gue harus menabung 200jt/24bulan = 8~9 juta per bulan.  Mohon maaf, tapi bunga bank harus sedikit gue abaikan karena jumlahnya tidak sesignifikan itu.  TAPI, kalau mau mencapai 200jt dalam 24 bulan, dengan reksadana saham X (gue nggak akan nyebut namanya) yang dalam 3 tahun terakhir memberikan return 15-20% per tahun (dan diasumsikan selama dua tahun berikutnya juga akan segitu), maka gue hanya perlu menabung sekitar 6~7 juta per bulan.  Perbedaan yang cukup signifikan, bukan?

Dalam proses ini, gue diedukasi tentang angka-angka yang ditunjukkan: NAV (mudahnya, ini adalah nilai atau harga sebuah unit reksadana), AUM (aset atau total uang yang dikelola reksadana tersebut), return (yang ini nggak usah dijelasin lah ya?), dll.  Dan setelah melihat dan mempelajari, gue memilih (iya, gue memilih sendiri, seru lho) beberapa reksadana yang gue inginkan, tentunya setelah berdiskusi tentang jumlah yang bisa gue investasikan dan alokasikan.

Setelah selesai semuanya, Mbak Wina masih set satu sesi lagi untuk bertemu langsung di bank, untuk langsung membuka rekening reksadana gue.

And that’s it.  I am an investor.  Cepat, ya?

Now let me drop a few knowledge i’ve gotten through the process.

–  Investasi tidak bisa dilihat murni sebagai tabungan.  Tabungan ya nabung, nyari aman.  Investasi ya nyari untung.  Kalau tujuan kamu adalah supaya tidak kehilangan uanglebih baik taruh deposito.  Kalau tujuan kamu adalah mendapatkan keuntungan, ya investasi.

–  Some people are risk takers, some are not.  High risk MIGHT yield higher profit.  Tapi ingat, tidak ada yang PASTI.

–  Reksadana (Mutual Fund) BERBEDA dengan saham.  Gue berusaha memahaminya seperti ini: saham adalah “kepemilikan” atas SATU instrumen investasi: sebuah perusahaan, sementara reksadana adalah “kepemilikan” atas BANYAK instrumen investasi sekaligus (pasar uang, saham, obligasi, dll), dengan bank kustodian sebagai penyimpan uangnya.  Pembelian reksadana dilakukan melalui bank.  Satu reksadana BISA terdiri dari beberapa instrumen investasi.

Let me explain this in a metaphor:

Saham, bisa dianggap seperti bahan makanan.  Misalnya: Saya beli telur seharga 1000 rupiah.  Besok, telur tersebut seharga 1100.  Saya jual, saya untung 100.

Reksadana, bisa dianggap seperti masakan jadi.  Misalnya: saya beli telur seharga 1000, saya beli beras seharga 3000, saya beli kecap seharga 2000, kemudian saya masak menjadi nasi goreng telur sebanyak 3 porsi.  Maka, masing-masing porsi akan seharga 2000 rupiah.  Jika saya jual di saat harga nasi goreng 2100, saya untung 100.  BEDANYA, jika harga telur naik 100 menjadi seharga 1100, saya tidak langsung untung 100 rupiah per porsi nasi goreng, karena harga nasi goreng itu sudah tercampur antara banyak bahan makanan.

LEGENDA: Bahan makanan adalah instrumen investasi, harga bahan makanan adalah harga instrumen investasi, harga nasi goreng telur adalah harga per unit (atau yang disebut sebagai NAV).

BTW, i got these knowledge while learning for myself, kalau ada kesalahan, feel free to correct me. :)

Kalau mau nanya lebih lanjut, boleh.  Mau langsung ke Mbak Ligwina juga bisa, langsung aja ke @MrsHananto.

Setelah ini, gue juga bakal nulis tentang berinvestasi di pasar modal, yang ternyata nggak sesulit yang dibayangkan.  Ditunggu, ya! :p

 

 

 

Selling Yourself is NOT an Easy Thing

Buat saya, pekerjaan “sales” adalah pekerjaan yang tidak ingin saya jadikan karir.  Bukan merendahkan, justru saya “khawatir”, dan tidak berani menjadikannya karir saya.

Itu adalah hal yang selalu saya katakan sejak pertama kali masuk ke dunia kerja, dan saat ditawari posisi di departemen sales.

Kenapa saya takut?

Karena untuk saya, menjual sesuatu bukanlah hal yang mudah.  Sejak berusia 7 tahun, saya sudah mulai berjualan.  Saat itu, komoditi yang saya jual adalah stationery sisa 2-3 tahun yang lalu dari sebuah perusahaan alat tulis.  Saya jual ke teman-teman sekelas.  Apparently, i started trying to “hustle” since quite a young age.

Sejak itu, saya menjual jauh lebih banyak barang, dengan jenis yang juga jauh lebih bervariasi:  MLM, pulsa, keripik, sandal, jam tangan, hingga rumah.  Semua pernah saya jual.

Lagi-lagi, saya mengeluarkan statement yang sama: saya tidak mau menjadikan jualan sebagai karir saya.

Tapi beberapa hari yang lalu, saya sadar satu hal: setiap hari, kita “jualan”.  Saya yakin, saat ini pun kalian yang membaca tulisan ini, secara tidak sadar, “berjualan” setiap harinya.  Tapi mungkin, komoditasnya sudah berbeda.

Komoditas yang saya maksud: DIRI SENDIRI.

Whoa, tenang, maksud saya bukan prostitusi, tetapi sebuah transaksi antara “self image” dengan “trust”.

*binatang apaan tuh?*

Begini.  Anggap saja, saya yang sehari-hari bekerja di sebuah perusahaan teknologi, tiba-tiba memberi seminar tentang membangun rumah dengan campuran semen dan tepung beras.  Will  you believe it?

Atau tiba-tiba, Michael Jordan memberi seminar tentang memasak.  Will you come? 

Image atau citra (bukan, bukan merk body lotion) adalah satu dari sedikit hal yang memang merupakan sebuah keniscayaan dari setiap manusia.  Setiap manusia akan dipersepsikan secara unik oleh manusia lainnya.

Contohnya, beberapa orang menganggap saya “si gendut berkacamata yang suka bermusik dan standup comedy”.  Tapi lebih banyak orang yang menganggap saya hanya sampai kata “bermusik” dari kalimat di atas.  Lebih banyak lagi yang mengenal saya hanya sejauh “berkacamata”, dan jauh lebih banyak lagi yang mengenal saya hanya sebagai “si gendut”.  Ya, mereka bahkan tidak ingat bahwa saya mengenakan kacamata.

Inilah uniknya citra diri.  Setiap orang akan dipandang berbeda oleh orang yang berbeda.  Dan citra ini memiliki banyak sekali faktor pembentuk.  Bisa jadi fisik, bisa jadi pembicaraan langsung, bisa jadi pendapat pihak ketiga, bahkan bisa jadi semudah “insting”.

So, how is this even related to “selling myself”?

Mudahnya adalah: be yourself, BUT make “yourself” someone that you want to be seen as.

Seorang pemusik yang tidak pernah bermusik, seorang komedian yang tidak pernah melucu, seorang koki yang tidak pernah pemasak, seorang penulis yang tidak pernah menulis, dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya.

Apakah kamu akan menunggu karya mereka selanjutnya?

Seorang kawan pernah berkata kepada saya: “Tetapkan sebuah target, dan jadikan dia hakimmu.  Setiap tindakanmu, bandingkan dengan target tersebut.  Jika tindakan A membantu target tercapai, lakukan.  Jika tidak, jangan lakukan.  Hidup bisa sesederhana itu”.

Mudah dikatakan, sulit dipraktekkan.

Tapi, mari memulai. :)

Terima Kasih, Windows Server 2003

Berkali-kali saya katakan, salah satu hal yang paling saya benci adalah perubahan. Terlebih, ketika perubahan itu berasal dari perpisahan.

Ketika Windows XP dinyatakan mengakhiri servisnya 2013 lalu, saya sedih. Bagaimanapun, itu adalah sistem operasi yang menemani sebagian besar kehidupan berkomputer saya. Setelah pengalaman yang kurang menyenangkan dengan Windows ME (Millenium Edition), kemudahan yang ditawarkan Windows XP sangat “memincut” hati saya.

Kali ini, kabar buruk kembali datang dari perusahaan teknologi berlogo jendela empat warna tersebut. Microsoft Windows Server 2003 juga akan mengalami EOS (End of Service). Mungkin banyak dari kalian yang berpikir “bodo amat, toh saya nggak pernah pakai!” saat membacanya. Akan tetapi, saya memiliki pengalaman sendiri dengan sistem operasi khusus server ini. Ini adalah sistem operasi server pertama yang saya pelajari, dan satu-satunya yang saya gunakan sampai sejauh ini. Sekarang mengerti kan, kenapa ada kedekatan emosional antara saya dengan berita ini? :)

Apa yang dimaksud dengan End of Service?
Artinya, Microsoft tidak lagi bisa memberikan jaminan terhadap sistem kamu yang masih menggunakan Microsoft Windows Server 2003, terutama dalam masalah keamanan, karena Windows tidak lagi mengeluarkan update atau patch terhadap sistem yang sudah melayani lebih dari satu dekade ini.

Apa dampaknya jika saya tetap ingin menggunakan Windows Server 2003?
Dampaknya, maintenance terhadap sistem kamu yang masih ber-OS Windows Server 2003 akan menjadi lebih mahal (karena tidak ada lagi update yang “gratis” dari Microsoft, maka setiap kerusakan terpaksa diperbaiki secara ad hoc). Dampak lain, jika kamu menggunakan Windows Server 2003 di dalam sebuah sistem perusahaan, besar kemungkinannya, hal ini akan mempersulit perusahaan kamu memperoleh sertifikasi atau standarisasi (ISO, misalnya), karena sistem ini sudah dianggap outdated (kuno) dan tidak aman.

Jadi saya harus ngapain, dong?
Kamu harus kuat. *menyeka air mata*
Nggak deng, Microsoft juga bukan perusahaan yang suka bercanda, kok. Mereka tidak akan menghentikan service yang digunakan jutaan orang di dunia ini jika belum ada solusi penggantinya. Saat ini, Microsoft sudah menyiapkan beberapa teknologi pengganti, untuk menjamin bisnis atau sistem kamu tetap berjalan. Malah dengan sistem yang lebih “teremajakan”, sistem kamu bisa menjadi lebih kuat dan aman.

Ya udah, Solusinya apa?
Sepengetahuan saya, Microsoft menyediakan beberapa solusi seperti Windows Server 2012 R2 dan Azure.
Windows Server 2012 R2 adalah solusi “on premise”, yang artinya di-install langsung di komputer server yang ada di tempat kamu. Salah satu fitur andalannya adalah fitur Hyper V, yang mampu melakukan virtualisasi untuk konsolidasi server, sehingg mampu menghemat biaya hardware dan maintenance dari server kamu.
Selain itu, solusi lainnya adalah solusi Cloud computing: Microsoft Azure, di mana server tidak ditempatkan di komputer server kamu, melainkan di lokasi server milik Microsoft. Keuntungannya? Less hassle, less things to take care of. Memiliki server di perusahaan sendiri, berarti kamu harus juga siap dengan pengamanan fisik, untuk menjaga kemananan data kamu. Dari temperatur ruangan server, kelembapan, hingga petugas keamanan. Dengan biaya layanan dari Microsoft Azure, kamu sudah membayar kesemuanya ini, sehingga tidak perlu khawatir lagi. Backup juga dilakukan berkala, lho. Tetap ingin menggunakan on-premise pun tidak apa-apa, Azure bisa dijadikan intermediary service, yaitu servis sementara, selama kamu membereskan infrastuktur on-premise kamu.

Ingat tanggalnya ya teman-teman: 14 Juli 2015
Sebelum tanggal itu, kamu juga bisa mendapatkan bantuan tentang migrasi ini di: http://aka.ms/ws03eos :)

Selamat tinggal, Windows Server 2003. Terima kasih banyak. :)

Review: WestJamNation

Review kali ini, saya akan membahas CD karya salah satu band yang saya “temui” dua tahun yang lalu: WestJamNation.  Kami sempat berbagi panggung di salah satu kafe di bilangan Senayan, dan persepsi pertama saya akan band ini adalah: unik.  Ya, unik.  Perpaduan dari permainan musik yang cukup “ramai” dengan lirik-lirik yang agak “ajaib”, band ini memiliki kesan tersendiri yang tidak lekang dari telinga dan ingatan saya sejak hari itu.

Setelah dua tahun, secara kebetulan saya “dipertemukan kembali” (ini kenapa dari tadi banyak yang harus pakai tanda kutip, ya?) dengan mereka, dan tepat saat itu saya melihat mereka sedang menjual CD ini.  Tanpa pikir panjang, saya membeli 2 keping CD (iya, nanti yang 1 dijadiin hadiah kuis, sabar ya), dan ditunjukkan cara membuka kemasan CD ini yang… UNIK.  Terlalu UNIK sampai saya berpikir “orang ini minum apa dulu ya, sebelum memutuskan bentuk kemasan CD-nya seperti ini?”

Anyway, desainnya cukup masuk dengan selera saya.  Terlihat simpel, tapi dengan tingkat sofistikasi yang cukup tinggi, sebenarnya.  Menurut saya, CD ini bisa, lah, dipajang di rak, tanpa membuat malu.  Keren kok desainnya.

2015-02-25 01.10.09 2015-02-25 01.09.31 2015-02-25 01.09.47

Okay, mari kita review lagunya!

Ada 5 lagu dalam album ini.  Sedikit terlalu sedikit untuk saya, tetapi tentu saja saya berpikir positif, band ini lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas.  Dan ternyata saya 100% benar.  Lagu-lagu di dalamnya membuat saya bertanya-tanya, kenapa band ini belum muncul di panggung yang lebih besar lagi.  Pilihan kata-kata dalam susunan lirik mereka (yang kebanyakan bahasa Indonesia) menurut saya keren, dan musiknya cukup eksploratif.  Penggunaan beberapa alat musik yang tidak “standar” seperti ketipung (kayaknya sih) dan brass instruments, membuat suara sang Vokalis (oiya, namanya Jati) terdengar sangat jujur.  Terdengar seperti orang yang menyanyi seiring alunan lagu yang didengarnya di radio, genuine.

Review per lagu ya!

1.  Di Sini. Lagu yang menggunakan bahasa Indonesia ini sangat cocok untuk menjadi lagu pertama di CD ini, karena lagu ini menurut saya memiliki kualitas untuk menjadi pembuka sebuah konser.  Lagu ini menggunakan kata-kata yang tidak terdengar sok puitis apalagi “menye-menye”, tetapi lebih seperti sebuah “pernyataan” sikap, sebuah ajakan, sebuah gerakan.  Aransemennya terdengar seperti lagu rock 80-an yang diisi dengan riff-riff gitar yang cukup tajam tetapi tidak nyolot.  A great combination.

2.  Love Bus.  Lagu yang berirama cepat ini, di luar dugaan saya, memiliki pace yang justru santai.  Banyak jeda antar kalimat yang dinyanyikan sang vokalis, membuat kita lebih mampu menghargai iringan alunan musik yang sangat seru, menurut saya.  Entah mengapa, sedikit mengingatkan saya pada Kings of Convenience.  Saya sedikit terkejut ketika mendengar adanya suara-suara wanita di sini, tapi justru menurut saya menambah depth dari lagunya.  Ada bagian di mana perkusi (tebakan saya sih ketipung) diberi porsi untuk solo, dan itu menurut saya asyik. Sayangnya, menurut saya, penutupnya terlalu cepat, jadi terkesan “nanggung”.  Kalau live, panjangin dikit, ya! *sok ngasih saran | seolah-olah dibaca sama WestJamNation-nya*

3.  Holiday.  Lagu ini makin membuat saya berpikir musik mereka mirip KoC.  Permainan dinamika yang sangat apik, dari menggebu hingga mendayu, jadi satu.  Kudos to the guitarist(s), sepertinya ini lagu mereka yang iringan gitarnya paling membuat saya mendengarkan dengan seksama.  Di luar tambahan backing vokal wanita, di lagu ini juga WestJamNation sedikit bermain-main dengan efek-efek vokal dan instrumental.  …kok lagunya agak trippy ya?  Asik banget. :)).  Lagu ini, saya berikan dua jempol khusus untuk permainan dinamikanya.  Rich sekali.

4.  Don’t You Know.  Dari awal, terdengar seolah banyak sentuhan Reggae-nya, tetapi saya lagi-lagi dikejutkan.  WestJamNation seperti bartender yang suka meracik berbagai bahan yang mungkin dilihat oleh orang awam sebagai hal yang tidak nyambung, tetapi berhasil disatukan dengan keren.  Menurut sotoy saya, ada beberapa bagian yang justru terdengar seperti “jazzy” banget.  Paling tidak, gaya-gaya di bagian tersebut sering saya dengar dilakukan oleh beberapa penyanyi jazz.  Dan lagu ini mengukuhkan pendapat saya bahwa WestJamNation suka men-showcase kemampuan mereka bereksplorasi, dan mereka memberikan ruang yang cukup untuk para musisi menunjukkan hasil eksplorasi itu.  Banyak sekali part-part instrumental yang membuat saya tertarik mendengarkan berulang-ulang, karena masing-masing instrumen di-showcase bersamaan tanpa terlihat egois.

5.  Sudah Terlambat. LAGU FAVORIT SAYA!  Beneran, lagu ini enak banget.  Semacam lagu-lagu santai yang enak didengarkan sambil meneguk segelas bir dingin (kalo udah boleh ya, kalo belum boleh ya minum air putih aja, tapi tetap harus dingin), atau lagu-lagu pembangun mood untuk bercintalah, alias lagu-lagu foreplay.  Astaga, ngomong apa saya barusan *cuci mulut*.  Pemilihan kata-katanya cukup unik, membuat kita berpikir, sebenarnya lagu ini berbicara tentang apa.  Setiap orang punya tebakan masing-masing, tetapi untuk saya, lagu ini bercerita tentang hal (APAPUN) yang tidak pernah bisa kita tolak.  Semacam sweet sin, dosa manis yang kita tahu adalah hal yang salah tetapi tetap tidak kuasa kita tolak.  Di sini saya berikan satu jempol tambahan khusus untuk Jati.  Tidak mudah untuk menyampaikan emosi dari lagu yang jelas-jelas berbeda (hampir 180º, menurut saya) dari lagu-lagu lainnya, tanpa kehilangan jatidiri suara.  Tetapi menurut saya Jati berhasil menyampaikan pesan lagu ini, dengan tetap karakter suaranya yang jujur itu.  Keren.

Kekurangan album ini, menurut saya, adalah jumlah lagu yang kurang banyak (maaf, saya memang serakah).  Tetapi jumlah lagu yang sedikit itu pula membuat variasinya terlihat sangat tinggi.  Lagu yang menggebu-gebu, lounge, dinamis, cross-genre, hingga santai mendayu.  Jika ada hal yang ingin saya tambahkan, mungkin ending dari masing-masing lagu yang terdengar kurang pas di telinga saya, terdengar… “nanggung”.  Nothing wrong with that, tapi sedikit kurang sesuai dengan selera saya, itu saja.

Bisa dibeli langsung di @WestJamNation ya guys! 😀

Siaran Saya di Siaranku!

Halo!

Kali ini saya akan bercerita sedikit mengenai sebuah pengalaman baru bagi saya: siaran live streaming.  Sebelum ini, saya sudah beberapa kali siaran di radio, baik sebagai tamu, pengisi acara, bahkan sebagai penyiar tamu.  Tetapi, pengalaman live streaming belum pernah terbayangkan bagi saya.

Don’t get me wrong, saya tidak memiliki masalah dengan live streaming, saya bahkan menonton beberapa siaran radio yang sekarang memiliki layanan live streaming, tetapi untuk menjadi “yang ditonton” membuat saya sedikit nervous.  Sejak diajak oleh @AryanataR, yang adalah salah satu penyiar di siaranku.com juga, saya berkali-kali menonton program di siaranku.com.  Cukup menyenangkan, menurut saya.  Kualitas suaranya bagus, penyiar-penyiarnya cukup bersahabat, tetapi minus yang saya lihat adalah “kualitas penonton”-nya, yang terlihat dari komentar-komentar di comment box yang tersedia.  Ada komentar-komentar yang menghina atau mem-bully sang penyiar, mulai dari suara, penampilan, atau bahkan hanya menyampaikan kata-kata kotor saja.  Tidak banyak sih, tetapi kok agak degrading, ya? :))

Akhirnya hari itu tiba juga, Sabtu 24 Januari.  Saya tiba di Menara AXA Kuningan City, tempat siaranku.com berkantor.  Saya akan siaran berdua dengan Dearly dari grup vokal Mannequin, membahas tentang musik.  Karena giliran siaran saya adalah jam 1 sampai jam 5, saya somehow memiliki keyakinan bahwa ini tidak akan terlalu ramai, dan setelah ngobrol dengan Dearly, dia pun mengamini.  Kekhawatiran saya berkurang.  Jauh.  *elap keringat*

Siaran pun dimulai, dan ternyata berbeda cukup jauh dengan bayangan saya.  Tidak ada kepanikan, hampir tidak ada kekasaran, kecuali satu orang yang terus menerus menanyakan apa arti dari sebuah frasa yang jelas bernada seksual.  Sepanjang siaran, bahasan saya dan Dearly, yang awalnya saya pikir akan sangat berkutat dengan musik, ternyata malah lebih banyak menyahuti para pendengar/penonton.  Sehari sebelumnya, saya baca-baca sedikit soal musik, supaya tidak terkesan bodoh, tapi ternyata nggak banyak kepakai juga :)).  Kami lebih banyak melayani request, dan ada juga beberapa lagu yang saya mainkan secara live (ada gitar dan cajon di sana).  Seru, seru banget malah.

Kesulitannya: Berbeda dengan penyiar radio, penyiar live streaming tidak punya waktu istirahat.  We are always on frame.  Seriously, kemarin itu gue sampai mikir: “kalo penyiar ini mau ke WC, gimana ya?”  Kemarin itu kita masing-masing satu kali ke WC, tapi itu bisa terjadi karena ada “tag team”, kalo sendirian?  Entahlah. :)).

Setelah berpikir bahwa 4 jam bakalan lama banget, pas dijalanin ternyata enggak juga.  Menit demi menit berlalu cepat banget.  Padahal tadinya berpikir bakal garing banget, kayak presenter-presenter acara tengah malam yang meminta penonton untuk mengirimkan SMS, tetapi ternyata seru.  Menanggapi komentar, membuka topik, akustikan, seru.  I would love to do it again, if possible. *kode*

Btw, konon kabarnya sih siaranku.com bisa jadi bakalan ada program untuk pair hosting gini lagi, doain aja cepat terjadi, siapa tau kamu yang berikutnya siaran di siaranku.com, kan? :p

Segitu aja pengalaman saya.  Keren lah!

DEARLY-n-DWIKA