My Daily Coffee

Kopi.

Entah sejak kapan, gue tergila-gila sama minuman yang satu ini.

Setiap jenisnya, punya kenikmatan masing-masing. Dari kopi instan yang rasanya manis dan after-taste nya kurang mengenakkan, sampai ke kopi yang eksklusif (baca: mahal) dan meninggalkan rasa yang memanja lidah.

Gue sampai merasa, kalau hari gue belum dimulai dengan secangkir (atau kadang-kadang segelas) kopi, gue ga bisa berfungsi secara baik dan benar.  Sampai suatu hari, salah satu sahabat gue nanya, “Dwik, kopi itu kalau setiap hari, bukannya malah merusak pencernaan?”  Well, gue ga peduli.  Kenyataannya, setiap hari gue yang dimulai dengan kopi, berjalan dengan baik; dan sebaliknya.  Dia kembali bilang, “itu namanya sugesti.  Khasiat itu ada semata-mata karena lu berpikir demikian.”

Gue cuma tertawa.  Sok tahu, pikir gue.

Tapi, sekarang gue mulai berpikir.  Bukankah sebelum gue tergila-gila sama kopi, gue bisa berfungsi dengan benar?  Dan banyak juga kok hasilnya, gak kalah dengan yang gue hasilkan sekarang.

Kemudian, gue mulai menganalogikan kopi sebagai hubungan asmara, terutama setelah gue baca tweet-tweet @radityadika tentang kopi pertamanya setiap hari.

Kopi, kalau kita analogikan sebagai cinta, ternyata banyak persamaannya.  Anggaplah kopi itu sebuah hubungan.  Ada hubungan yang terasa manis, pahit, keras, panas, dingin, dan lain sebagainya.  Sebelum meminum kopi, kita tahu terlebih dahulu jenis kopinya, dan kita punya ekspektasi, akan seperti apa rasa kopi itu.  Dan ekspektasi ini, tentu tidak selalu benar.  Rasa yang ditinggalkan setelah kita selesai minum, mungkin itu yang namanya kenangan.  Kenangan yang membuat kita kangen akan kopi yang sama, atau justru kenangan yang membuat kita ingin buru-buru berkumur dan membuangnya dari mulut kita.  Dan menurut gue, ini sah-sah saja.

Gue punya seorang OB di kantor nyokap, yang selalu minum kopi yang sama, dengan cara yang sama, setiap pagi.  Kopi seharga kira-kira dua ribu rupiah per gelas.  Suatu hari, gue bawain dia kopi luwak, karena itu traktiran dari bos gue, dan gue lagi ga bisa minum kopi karena sakit perut.  Dan kopi mahal itu, dibuang sama dia setelah dicicip, menurutnya gak enak.

Well, bukankah cinta juga sama?  Doesn’t matter how perfect someone is to the world, we are looking for someone perfect to us.  Meskipun secangkir kopi seharga dua ribu rupiah mungkin hanya menjadi bahan tertawaan para aristokrat, toh kopi luwak yang mereka banggakan bisa jadi cuma sampah bagi sebagian orang.  It’s all about personal preference, and you can not force your choice.

Buat gue, cinta itu masalah pilihan.  Cinta itu suatu hal yang sulit untuk dibuatkan sebuah ukuran.  “Megan Fox itu cantik banget! Dan itu universal!”  Setuju.  Itu yang gue sebut “ekspektasi”.  Tapi ya, kita ga akan pernah tahu nilai secangkir kopi untuk kita masing-masing sebelum kita mencobanya sendiri.  Sometimes, what looks good outside, does not live to the expectation we made.  

Seperti sekarang.  Gue sering bercerita kepada teman-teman gue, gue kangen.  Dan mereka bilang, “jangan dipikirin, lu kangen hanya karena lu mikirin terus.”  Itu masalahnya, kenangan yang ditinggalkan oleh sang “dia”, adalah jenis kenangan yang selalu membawa gue untuk ingin kembali.  Meskipun cuma sekadar melihat dari jauh.  Mungkin kalau diibaratkan kopi, gue udah ngerasa cukup senang dengan mencium aromanya.  Haha.

Well, time to go.

See you next post.

Welcome!

Hi there!

Welcome to my (not so) lovely website!

Here, i’ll post everything i think interesting.

Ah, i mean interesting for me. (well, i paid for the hosting, didn’t i? :p)

And also, i’ll post some things related to me, such as my photography (yes, i tried taking some pictures), my music (yes, i do try to make music), my blog (i just like to do some writing), and my most recent activity, standup (please don’t laugh AT me, but laugh WITH me).

I hope you enjoy your stay here.

Adios, amiga!