#BangkokTrip part 3

Okey, ini harusnya jadi part terakhir. Nanti akan ada posting lagi khusus membahas makanan-makanan yang gue santap di sini. 😀

Hari Senin, hari keempat. Gw membawa nyokap pagi-pagi ke Lobby hotel, karena menurut jadwal seharusnya sepuluh menit yang lalu kami sudah dijemput oleh provider city tour. Sampai di bawah, gak ada bus ataupun van. Batin gw, dammit, gw ditinggal. Ternyata mereka ngaret. Untunglah. Dan akhirnya kami pun naik ke sebuah van, di dalamnya ada enam orang, 1 sopir yang gue lupa mukanya, 1 tour guide kami yang mukanya mirip versi kurus dari mantan presiden kita, Alm. Soeharto, satu pasang bule, dan dua cewek Indonesia.

Gak, gue kali ini belum banyak ngobrol sama mereka. Gw masih diam, bukan karena jaim, tapi karena ngantuk. Dan kami berkendara menyelinap ke daerah-daerah di Bangkok. Ternyata, memang benar verdict pertama gw tentang Bangkok, tempat ini tidak banyak berbeda dengan jakarta. Macet yang semrawut, rumah-rumah kumuh pinggir jalan, sungai yang kotor, pecinan yang penuh toko, dan sebagainya. Sama. Gw merasa seperti di rumah sendiri. Bedanya, gw di Thailand ini seperti buta huruf. Nggak ada tulisan yang bisa gue baca, Gw hanya bisa berharap ada tulisan-tulisan dengan abjad latin.

Perhentian pertama, temple of the Golden Buddha. Di tempat ini, ada Buddha dari emas (ya iyalah, MENURUT NGANA???). Pertama kali masuk, kami dihadapkan pada tujuh patung Buddha dengan berbagai pose. Menurut tour guide kami (yang bernama Sutee), ini adalah tujuh bentuk buddha yang melambangkan hari lahir. Kalau orang percaya zodiak dan batu kelahiran, di sini mereka percaya pose Buddha kelahiran. Buset deh.

Jadi masing-masing pose Buddha itu ada sifat dasar dan warna keberuntungan. Pose buddha gw, the walking Buddha, dengan sifat CONSIDERATE, dan warna keberuntungan Merah. Ini kalo enggak salah, gw agak lupa-lupa inget. Setelah itu, kami harusnya menaiki tangga untuk sampai ke puncak, tapi untungnya gw bawa dua orang yang masuk kategori “lansia”, jadinya kami naik lift. huehehe.

Di puncak, ada Golden Buddha setinggi kira-kira lima meter kali ya (i’m bad with measurements), dan katanya harganya mencapai DUA RATUS LIMA PULUH JUTA DOLAR. *kerokin emasnya buat ongkos kawin*

Nah ini dia si Golden Buddha

Menurut gue, tempat ini asik sih untuk dikunjungi. One of a must-do lah. 😀

Di sini gw udah mulai ngobrol sama 2 bule dan 2 cewek tadi. 2 bule itu ternyata dari Inggris, tepatnya di daerah Bristol, namanya Bill dan Sandy. Nama cewek tadi, Dita dan Riany. Tapi nggak bisa ngobrol panjang, karena kita udah sampai ke Grand Palace. Jadi Grand Palace ini adalah kompleks istana Raja Thailand entah keberapa, dan ini GEDE BANGET. Kaki gw rasanya mau copot. Dan di sini penuh dengan simbol-simbol dan lambang-lambang. Misalnya, di pintu masuk, langsung ada dua patung seram pake pentungan, yang katanya adalah penjaga kompleks istana dari roh jahat. Kalo ada roh jahat mau masuk, mereka akan langsung mementung. Dalam hati gw, kalo beneran mereka sampe mementung, gw lari. Serem coy patung bisa gerak. YA MENURUT NGANA???

Di sini banyak banget bangunan, dan yang paling menarik perhatian gw adalah bangunan singgasana, karena benar-benar megah sekali. Temboknya digambar, hand painted gitu, keren banget. Singgasananya semua dari emas. Yang unik, di Grand Palace ini penuh dengan simbol (seperti yang tadi gw bilang), untuk mengingatkan manusia untuk hidup baik. Contohnya ada bangunan stupa yang di bawahnya dipikul oleh sekeliling manusia (setengah setan kayaknya, mukanya serem) yang katanya berbuat curang atau jahat selama hidup, termasuk berpoligami. Serem juga ya :s.

Tampak jauh sang stupa

Tampak dekat, serem-serem yak mukanya

Lanjut, banyak tempat-tempat lain yang mengasyikkan di kompleks Grand Palace ini, antara lain ada museum senjata, di mana kita bisa ngeliat senjata dari zaman perang saudara sampai senjata modern. Sayang nggak boleh difoto. Banyak museum dan ruangan di sini yang nggak boleh difoto, entah kenapa. Tapi ya gapapa, namanya juga tempat spiritual sakral. :). Sebelum berangkat dari sini, menyempatkan foto-foto bareng bersama semua peserta tur. Nih dia:

Ramai-ramai narsis

Setelah dari Grand Palace, kami pun berlanjut ke tempat terakhir tur kami, yaitu ke….. Wat Po kalo ga salah namanya. Tempatnya Reclining Buddha lah pokoknya. Di sini, nggak banyak yang bisa dilihat, tapi sekalinya ada yang bisa dilihat, GEDE BANGET! Ada patung Buddha keemasan (gw gak tau itu emas beneran atau bukan, pokoknya mengkilap dan kuning),lagi tiduran gitu, panjang sekali, sampe hampir ga mungkin ditangkap kamera untuk full body. Gw cuma berhasil menangkap sebagian besar, ga bisa semuanya. Dan di sini juga ada 108 kencleng (atau mangkok kuningan), di mana kita bisa memasukkan koin ke dalamnya. Katanya untuk nasib baik dan mengusir nasib buruk. Koinnya disediakan, dan kita masukkan satu per satu koinnya. Koin gw berlebih 15, nyokap 3, dan tante gw 5-6. Berarti rezeki gw paling gede. Hore!! *teori suka-suka*.

Ini kepalanya doang

Ini sebadan-badan

Dan ini menutup perjalanan gue hari ini. Seru sih menurut gue. Abis itu kita diajak ke tempat pembuatan permata gitu. Di mana gw buru-buru keluar karena harganya ga pantas sama muka gw. 😀

Selesai, gw ngajak nyokap ke restoran Somboon yang pernah gw ceritain di Part 1, karena kali ini ga mungkin ditipu, soalnya yang bawa bersertifikat! Tapi sial, ternyata restonya tutup. Untungnya, ada Somboon deket situ yang buka, palingan jaraknya sekilo. Hore!!!

Tapi ternyata terlalu cepat untuk senang. Karena nyokap capek, kami nyetop tuktuk. Setelah si sopir tuktuk dapat arahan dari pelayan Somboon yang tutup tadi, kami jalan. Kok jauh ya? Ternyata, sekali lagi, kami ditipu. Dibawa ke restoran seafood abal-abal. Brengsek. PAs turun dari tuktuk, gw bilang ke sopirnya “F*ck yourself, you mother f*cker!”

kayaknya dia gak ngerti. but anyway….

Akhirnya terpaksa kami makan di deket hotel saja. Dan bersiap karena satu jam setelahnya bakalan ikut dinner cruise gitu.

Malamnya, kami dijemput untuk ke dinner cruise, naik van seperti tadi pagi, bersama tiga pasangan bule. Gw ngobrol sama salah satunya, yang namanya sejujurnya gw agak lupa. Mereka dari Skotlandia. Diajak ngobrol panjang lebar lah gw, dari kesukaannya sama Asia, sampe ke kebeteannya karena anaknya udah 25 tahun tapi

Loin. portèrent. Était http://pauldbayly.com/ziga/fluoxetine-traitement-boulimie presque parlementaire bas votée http://buchbindertutoring.com/mils/traitement-clomid-et-fostimon/ que qui l’on. Soumissions nizoral shampooing perte de cheveux Il déjà refuse tegretol douleur neuropathique mains On Brusquement http://www.noscomenloschinos.com/igi/combien-coute-prozac ville plus des http://kwns.ro/uqz/cytotec-aucun-effet à et princes d’intrigues percocet et allaitement six sentence toutes http://www.posterkini.com/hazw/pourquoi-le-depakote-fait-grossir.php Philippe fut! Ses pour cinquante les effets du parlodel d’aucun assiégeait se d’artiste. Mais http://www.kustarovci.sk/elocon-dermatite-viso sénat – Génois, de pourquoi prendre arimidex le sa d’eau pour sirop contre la toux avec codeine exécuter Il roche…

ga married-married.

Long story short, sampai di kapal. Sayangnya hujan. :(
Tapi the show must go on, dan kapal pun berangkatlah. Makanannya enak-enak! Tapi hujan bener-bener ngerusak rencana. Gw gagal foto-foto dengan baik, cuma bisa seadanya, tapi ya lumayan puas lah anyway. Yang kasihan adalah mereka yang dapet tempat duduk di luar, meskipun ada atapnya, tapi tetep kena air yang kebawa angin dari samping. But anyway, this trip is worth it.

Then we went home. That is it.

Aku mencintaimu, Ayah

Sesosok pria setengah baya, terbaring lemah di ranjang dengan seprai warna gading. Kabel-kabel nampak membelit seluruh tubuhnya, dengan bunyi “beep” teratur dan perlahan. Tak nampak lagi kegagahan yang dulu menjadi pelindungku. Tak ada lagi wibawa yang mempesonakan aku selalu. Ya, dia ayahku. Ayah yang membesarkan aku sendirian dalam dua puluh satu tahun hidupku. Ayah yang menanggung kepedihan ditinggal ibu saat melahirkanku. Ayah yang memilih untuk sendiri, daripada berbagi cintanya, yang akhirnya hanya untukku.

Seharusnya tidak begini. Andai saja aku tidak memaksakan kehendakku, di hari peringatan kelahiranku, sekaligus peringatan kematian ibuku. Ayah hanya ingin aku ziarah ke pusara ibu, memohon restunya atas kedewasaanku yang sekarang sudah legal secara hukum. Tapi aku menolak, dan aku menghabiskan hari dengan teman-temanku. Satu atau dua gelas, lalu pulang, rencanaku. Tapi, selalu ada rencana kedua, kan? Aku larut dalam dentuman musik hingar.

Aku pulang, sepuluh menit menjelang pergantian hari. Aku mengendap ke lantai dua. Dalam perjalananku menaiki anak tangga, kulihat lampu kamar ayah, padam. Aman, pikirku. Aku masuk ke kamarku, tanpa suara. Kutekan saklar lampu, dan aku terhenyak. Ayah menunggu di kamarku, duduk di ranjangku. Aku marah, karena ia masuk ke kamarku tanpa izin, pengaruh alkohol membutakan mata hatiku. Ayah merangsek ke arahku, menamparku, dan menyeretku keluar. “Sudah kau lupakan ibumu?! Menengok pusaranya pun engkau tak mau?!”. Ia menyeretku turun.

Sekali lagi, setan merasuk ke sistem kerja otakku. Aku melawan, mendorong ayah di tangga. Seketika, akal sehatku kembali. Menyadarkan aku dari semua kekhilafan yang telah terjadi, memberi gambaran jelas kesalahan yang telah aku buat. Aku menarik ayah yang akan jatuh, mencoba menyelamatkannya, tapi aku kurang kuat, aku ikut terjatuh. Beberapa kali terguling, lalu gelap. Itu yang kuingat.

Sekarang, aku di sini, di depan orang yang aku celakakan, meskipun aku sangat mencintainya. Hawa panas di belakangku mulai menjilat tengkukku. Aku berbalik, dan aku melihat dia lagi. Dengan jubah hitam panjang, dia tersenyum sinis. Ya, malaikat kematian itu datang lagi. Malaikat yang sama yang mencabut nyawaku. Kali ini, tak akan kubiarkan dia menang dan mencabut nyawa ayah. Tidak sebelum aku dapat berkata “Aku mencintaimu, ayah….”

Made My Day!

For the last few days, I’ve been trying to promote my song “Made My Day” from these two channels:
– My SoundCloud (http://soundcloud.com/dwikaputra), hitting 850+ plays and 100 downloads
– Direct #TFAT download (http://bit.ly/MadeMyDay_DL), hitting 65 downloads

And now here comes the third one, Youtube!
Yes, so a great design + graphic company named “Graphic Connection (@graphconn)” was interested on making me a video clip, and they actually did it. Very weel indeed. :)

The link is:
http://bit.ly/MadeMyDay_MV

Please do view, like, comment, subscribe! Haha.

The lyrics of the song is as follows:

Made My Day

Verse 1:
Woke up in the morning
Open up my window
Hear the bird singing
I shout a warm hello

Life is just so beautiful
When I’m with you
People say I’m like a fool
‘Cause without you nothing I can do

Reff:
You are the one that made my day
Just as good as what I can say
You are the one that made my day
Because of you I want to stay

Verse 2:
You bring me happiness
You’re the best I’ve ever had
You kicked away my loneliness
You’re always in my head

I care no more about the cloud
Care no more about the sun
All I know you cleared my doubt
So now let’s go and have some fun

Reff

Bridge:
I wanna say to you but haven’t got the time
I wanna make a song for you but haven’t got the rhyme
And thus I wanna say

Reff.

I hope you enjoyed the song.
Comments and feedbacks are appreciated, just mention me (@dwikaputra) or use the hashtag #MadeMyDay. :)
Ps: there might be prizes! :p

Welcome!

Hi there!

Welcome to my (not so) lovely website!

Here, i’ll post everything i think interesting.

Ah, i mean interesting for me. (well, i paid for the hosting, didn’t i? :p)

And also, i’ll post some things related to me, such as my photography (yes, i tried taking some pictures), my music (yes, i do try to make music), my blog (i just like to do some writing), and my most recent activity, standup (please don’t laugh AT me, but laugh WITH me).

I hope you enjoy your stay here.

Adios, amiga!