Selling Yourself is NOT an Easy Thing

Buat saya, pekerjaan “sales” adalah pekerjaan yang tidak ingin saya jadikan karir.  Bukan merendahkan, justru saya “khawatir”, dan tidak berani menjadikannya karir saya.

Itu adalah hal yang selalu saya katakan sejak pertama kali masuk ke dunia kerja, dan saat ditawari posisi di departemen sales.

Kenapa saya takut?

Karena untuk saya, menjual sesuatu bukanlah hal yang mudah.  Sejak berusia 7 tahun, saya sudah mulai berjualan.  Saat itu, komoditi yang saya jual adalah stationery sisa 2-3 tahun yang lalu dari sebuah perusahaan alat tulis.  Saya jual ke teman-teman sekelas.  Apparently, i started trying to “hustle” since quite a young age.

Sejak itu, saya menjual jauh lebih banyak barang, dengan jenis yang juga jauh lebih bervariasi:  MLM, pulsa, keripik, sandal, jam tangan, hingga rumah.  Semua pernah saya jual.

Lagi-lagi, saya mengeluarkan statement yang sama: saya tidak mau menjadikan jualan sebagai karir saya.

Tapi beberapa hari yang lalu, saya sadar satu hal: setiap hari, kita “jualan”.  Saya yakin, saat ini pun kalian yang membaca tulisan ini, secara tidak sadar, “berjualan” setiap harinya.  Tapi mungkin, komoditasnya sudah berbeda.

Komoditas yang saya maksud: DIRI SENDIRI.

Whoa, tenang, maksud saya bukan prostitusi, tetapi sebuah transaksi antara “self image” dengan “trust”.

*binatang apaan tuh?*

Begini.  Anggap saja, saya yang sehari-hari bekerja di sebuah perusahaan teknologi, tiba-tiba memberi seminar tentang membangun rumah dengan campuran semen dan tepung beras.  Will  you believe it?

Atau tiba-tiba, Michael Jordan memberi seminar tentang memasak.  Will you come? 

Image atau citra (bukan, bukan merk body lotion) adalah satu dari sedikit hal yang memang merupakan sebuah keniscayaan dari setiap manusia.  Setiap manusia akan dipersepsikan secara unik oleh manusia lainnya.

Contohnya, beberapa orang menganggap saya “si gendut berkacamata yang suka bermusik dan standup comedy”.  Tapi lebih banyak orang yang menganggap saya hanya sampai kata “bermusik” dari kalimat di atas.  Lebih banyak lagi yang mengenal saya hanya sejauh “berkacamata”, dan jauh lebih banyak lagi yang mengenal saya hanya sebagai “si gendut”.  Ya, mereka bahkan tidak ingat bahwa saya mengenakan kacamata.

Inilah uniknya citra diri.  Setiap orang akan dipandang berbeda oleh orang yang berbeda.  Dan citra ini memiliki banyak sekali faktor pembentuk.  Bisa jadi fisik, bisa jadi pembicaraan langsung, bisa jadi pendapat pihak ketiga, bahkan bisa jadi semudah “insting”.

So, how is this even related to “selling myself”?

Mudahnya adalah: be yourself, BUT make “yourself” someone that you want to be seen as.

Seorang pemusik yang tidak pernah bermusik, seorang komedian yang tidak pernah melucu, seorang koki yang tidak pernah pemasak, seorang penulis yang tidak pernah menulis, dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya.

Apakah kamu akan menunggu karya mereka selanjutnya?

Seorang kawan pernah berkata kepada saya: “Tetapkan sebuah target, dan jadikan dia hakimmu.  Setiap tindakanmu, bandingkan dengan target tersebut.  Jika tindakan A membantu target tercapai, lakukan.  Jika tidak, jangan lakukan.  Hidup bisa sesederhana itu”.

Mudah dikatakan, sulit dipraktekkan.

Tapi, mari memulai. :)

Siaran Saya di Siaranku!

Halo!

Kali ini saya akan bercerita sedikit mengenai sebuah pengalaman baru bagi saya: siaran live streaming.  Sebelum ini, saya sudah beberapa kali siaran di radio, baik sebagai tamu, pengisi acara, bahkan sebagai penyiar tamu.  Tetapi, pengalaman live streaming belum pernah terbayangkan bagi saya.

Don’t get me wrong, saya tidak memiliki masalah dengan live streaming, saya bahkan menonton beberapa siaran radio yang sekarang memiliki layanan live streaming, tetapi untuk menjadi “yang ditonton” membuat saya sedikit nervous.  Sejak diajak oleh @AryanataR, yang adalah salah satu penyiar di siaranku.com juga, saya berkali-kali menonton program di siaranku.com.  Cukup menyenangkan, menurut saya.  Kualitas suaranya bagus, penyiar-penyiarnya cukup bersahabat, tetapi minus yang saya lihat adalah “kualitas penonton”-nya, yang terlihat dari komentar-komentar di comment box yang tersedia.  Ada komentar-komentar yang menghina atau mem-bully sang penyiar, mulai dari suara, penampilan, atau bahkan hanya menyampaikan kata-kata kotor saja.  Tidak banyak sih, tetapi kok agak degrading, ya? :))

Akhirnya hari itu tiba juga, Sabtu 24 Januari.  Saya tiba di Menara AXA Kuningan City, tempat siaranku.com berkantor.  Saya akan siaran berdua dengan Dearly dari grup vokal Mannequin, membahas tentang musik.  Karena giliran siaran saya adalah jam 1 sampai jam 5, saya somehow memiliki keyakinan bahwa ini tidak akan terlalu ramai, dan setelah ngobrol dengan Dearly, dia pun mengamini.  Kekhawatiran saya berkurang.  Jauh.  *elap keringat*

Siaran pun dimulai, dan ternyata berbeda cukup jauh dengan bayangan saya.  Tidak ada kepanikan, hampir tidak ada kekasaran, kecuali satu orang yang terus menerus menanyakan apa arti dari sebuah frasa yang jelas bernada seksual.  Sepanjang siaran, bahasan saya dan Dearly, yang awalnya saya pikir akan sangat berkutat dengan musik, ternyata malah lebih banyak menyahuti para pendengar/penonton.  Sehari sebelumnya, saya baca-baca sedikit soal musik, supaya tidak terkesan bodoh, tapi ternyata nggak banyak kepakai juga :)).  Kami lebih banyak melayani request, dan ada juga beberapa lagu yang saya mainkan secara live (ada gitar dan cajon di sana).  Seru, seru banget malah.

Kesulitannya: Berbeda dengan penyiar radio, penyiar live streaming tidak punya waktu istirahat.  We are always on frame.  Seriously, kemarin itu gue sampai mikir: “kalo penyiar ini mau ke WC, gimana ya?”  Kemarin itu kita masing-masing satu kali ke WC, tapi itu bisa terjadi karena ada “tag team”, kalo sendirian?  Entahlah. :)).

Setelah berpikir bahwa 4 jam bakalan lama banget, pas dijalanin ternyata enggak juga.  Menit demi menit berlalu cepat banget.  Padahal tadinya berpikir bakal garing banget, kayak presenter-presenter acara tengah malam yang meminta penonton untuk mengirimkan SMS, tetapi ternyata seru.  Menanggapi komentar, membuka topik, akustikan, seru.  I would love to do it again, if possible. *kode*

Btw, konon kabarnya sih siaranku.com bisa jadi bakalan ada program untuk pair hosting gini lagi, doain aja cepat terjadi, siapa tau kamu yang berikutnya siaran di siaranku.com, kan? :p

Segitu aja pengalaman saya.  Keren lah!

DEARLY-n-DWIKA

Review: Across Chapters (@RanggaPranendra)

Saya mengenal Rangga dari medio 2011, dan saat itu kami dipertemukan untuk bermain bersama di sebuah project duo yang digawangi oleh Giovanni Garry.  Dan dari awal saya merasa (dan diberitahu juga, sih) bahwa Rangga ini tipe musisi off the book, tidak pernah mempelajari musik secara textbook.  Sebenarnya mirip dengan saya yang belajar secara otodidak, tapi perbedaan utamanya mungkin di bakat.  Hahaha.  Dilahirkan dari pasangan pemusik, Rangga menunjukkan bahwa bakat memang salah satu faktor yang penting (meskipun bukan yang terpenting) dalam pembuatan karya musik.  Dalam bertahun-tahun kiprahnya di dunia musik, dia telah membuat BELASAN album dari lagu-lagu buatannya sendiri, dengan lagu yang mungkin sudah berjumlah lebih dari seratus.  Dan album Across Chapters ini adalah pengejawantahan yang tepat dari judulnya.  Lagu-lagu ini berasal dari berbagai album yang dibuatnya sebelumnya. Oke, cukup dengan cerita latarnya, mari mulai review-nya.

Pertama, dari kemasannya.  Menurut saya, kemasannya sangat plain, crystal CD case dengan satu lembar cover yang berisi kata sambutan, daftar lagu, dan QR code untuk menuju lirik dari semua lagunya.  Saya suka sentuhan keberadaan QR code di CD ini, tetapi tekstur kertasnya kurang menyenangkan untuk saya.  Memang terlihat artsy, tetapi warna kertas yang agak kusam memberi kesan vintage dan… ketumpahan kopi.  Pemilihan warna biru dan hijau untuk siluet Rangga di bagian depan dan untuk font color menambah kesan vintage, dengan tekstur seperti cat air.  Menurut saya, ini standar untuk CD album yang self-produced, tetapi mungkin kalau ada cetakan kedua, dapat diperbaiki konsepnya.

Oke, sekarang lagu-lagunya.  Menurut saya, ada tiga kata yang sangat penting dalam menggambarkan album ini: Variatif, Jujur, dan Nostalgia.  Entah kenapa, mendengar variasi lagu-lagu ini, saya merasa kembali ke masa kecil.  Mungkin karena banyak sentuhan musik Jepang, jenis musik yang menemani sebagian besar masa kecil saya dalam bentuk OST Anime.  Kenapa “jujur”?  Karena rasanya album ini mengalami proses penyuntingan yang cukup minim.  Suara Rangga terdengar asli tanpa editan.  Ini ada bagus dan buruknya, tentu saja.  Buruknya adalah, ada beberapa titik di mana suara Rangga terdengar tercekik atau serak.  Bagi beberapa orang, ini mungkin terdengar tidak enak, tetapi untuk saya ini terdengar menyenangkan karena memberi sentuhan “live performance“.  Hal lain yang saya sukai adalah album ini dipenuhi dengan aransemen yang berbeda-beda, dengan banyak instrumen pengiring (selain gitar yang menjadi instrumen utama Rangga).  Keren.

Mari bahas per lagu, kalau begitu.

Track 1: We’re Still Young and Free.  Lagu yang sangat upbeat dan uplifting. Nada-nadanya cukup unik untuk telinga saya.  Tetapi, lagu ini mengingatkan saya dengan lagu-lagu tahun 90-an.  Sayangnya, backing vokalnya masih terlalu monoton (semuanya suara Rangga, soalnya).  Mungkin bisa di-repackage dengan lebih banyak karakter vokal.  Ajak cewek gitu, Rang. (seolah-olah Rangganya baca).

Track 2: Dengan Radikal.  Lagi-lagi, ini lagu yang mengingatkan saya dengan lagu-lagu tahun 90-an, apalagi dengan adanya bagian-bagian refren yang saling “menimpa”.  Tetapi, ini sebenarnya adalah lagu yang diciptakan baru-baru ini.  Dan menurut saya, pengaruh lirik-lirik JKT48 pada lagu Rangga yang satu ini terlalu jelas, terutama dari pemilihan diksi dan pemberian frasa-frasa yang sangat… literal.  It fits perfectly.  

Track 3: Cinta Tos-tosan.  Ini lagu yang sangat… aneh.  But, in a good way.  Liriknya cukup absurd (misalnya ada frasa “Langit ketujuh” yang disambung dengan “tujuh belas Agustus tahun empat lima”, sehingga jadi “Langit Ketujuh Belas Agustus Tahun Empat Lima”.  Tapi lagunya enak, iringan instrumen yang unik-unik (seperti trombone, efek suara megafon, dan lain-lain) membuat lagu ini jadi enak untuk berjoget-joget asik.

Track 4: Kupastikan.  Lagu favorit saya.  Terdengar seperti soundtrack sebuah film tokusatsu.  Beneran, deh.  Tambahkan catchphrase dari tokoh-tokoh superhero seperti “Berubah!” atau “Pukulan Maut!” dengan iringan instrumental lagu ini, cocok banget, kok.  Lagu ini bercerita tentang orang yang tidak menyerah mencintai seseorang.  Dan sama sekali tidak galau, lebih seperti survivor.

Track 5: Ini Bukan Lagu Cinta.  Akhirnya ada lagu di album ini yang benar-benar sweet.  Bukan cuma secara lirik ya, tetapi nadanya cukup jumpy, benar-benar seperti orang yang jatuh cinta.  Suara gitar nilon terdengar sangat cocok dengan lagu ini, tidak terlalu tajam, malah memberi kesan hangat dan bersahabat.

Track 6: Acong’s Journey.  Sepertinya ini lagu eksperimental, tetapi hasilnya sangat bagus.  Agak mengingatkan saya dengan lagu OST dari Sailor Moon (iya, Anime yang itu).  Sejujurnya saya tidak paham lagu ini tentang apa, tetapi nadanya enak untuk singalong.

Track 7: Kamu terlalu Baik.  Intro lagu ini mengingatkan saya dengan lagu anime, tetapi untuk bagian lagu penutup.  Saat masuk ke bagian utama lagu, ternyata lebih mirip lagu-lagu pop rock akhir 90-an.  Untuk kamu-kamu yang pernah diputusin dengan frasa “Kamu Terlalu Baik Buat Aku”, mungkin lagu ini cocok.  Enak kok.

Track 8: Aku Bisa.  Lagu ini… agak terlalu mendayu-dayu untuk suara Rangga, menurut saya.  Apalagi bagian refren/chorusnya. Aransemennya lucu

Track 9: Brighter You.  Lagu yang terdengar sangat emosional, entah kenapa.  Oh, dan entah kenapa juga, lagu ini terasa seperti ada sentuhan etniknya.  Saya suka sekali dengan permainan pianonya, terdengar cocok sekali dengan mood yang ditawarkan lagu ini.

Track 10: Life Goes On.  Lagu ini lah yang akhirnya membuat saya sangat yakin bahwa Rangga memang ingin membuat lagu ini seperti lagu soundtrack film kartun Jepang.  Dengarkan sendiri, deh.  Nanti kalian akan mengerti.  Sulit untuk mengatakan bahwa lagu ini dibuat oleh orang Indonesia.  Apalagi, Rangga memang seorang yang berkuliah di bidang Sastra Inggris.  Penggunaan kata-kata dalam bahasa Inggrisnya tepat dan pelafalannya juga baik.  Aransemennya sangat “megah” meskipun sederhana.

Track 11: Bintaro.  Kalau dari tadi saya banyak mengatakan lagu-lagu Rangga mengingatkan saya dengan lagu Jepang, lagu ini juga begitu sih, tetapi entah kenapa saya teringat dengan band-band Indonesia 90-an seperti Base Jam dan Wayang. Ceritanya pun cukup kampret, intinya sih nyasar saat ingin ke rumah gebetan/pacar/mantan, sepertinya.  Tapi digabung dengan berbagai majas dan perumpamaan, jadi lagu yang lumayan cinta-cintaan juga.

Track 12: Mereka Tak Kan Bisa Mengerti.  Lagu ini menurut saya paling plain dibandingkan lagu-lagu lainnya.  Aransemennya simpel, kata-katanya sangat terus terang, berbeda lah.  Tebakan saya, lagu ini dibuat di saat-saat Rangga mengalami sendiri kejadian di dalam lagunya, yaitu tentang hubungan yang ditentang, makanya lagunya terasa sangat jujur.  Curhat, ngga?

Overall, album ini menyenangkan buat saya.  Tetapi, masih banyak juga yang bisa dilakukan Rangga untuk memperbaiki album ini.  Can’t wait for a second one. 

Review: Christmas with Billy Simpson

Billy Simpson is a winner of a talent show in Indonesia, and i am honored to have the chance to MC for his newest album launching: “Christmas with Billy Simpson”.  Personally, i am quite skeptic about Christmas albums.  Why?  Because in Indonesia, the sale of Christmas Album (as many other religious music albums) is very segmented and timeframed.  But then, upon hearing the contents of the CD, i am quite surprised.  Especially upon learning the fact that this album sold very well in iTunes (it even surpassed Taylor Swift’s “1989” for the opening week), and that, is cool.

Alright, let’s go straight to my review of the album.

2014-12-18 15.55.50

First of all, the CD packaging is very nice, especially since Axioo is doing the design and the photo.  I liked the warm nuance it brought, with wooden accessories, almost pitch black darkness in places, and Billy’s face (or guitar).  It seems personal, warm, and friendly, the kind of thing i liked the most.

The songs are pretty much classic, such as The First Noel, Silent Night, and O Holy Night.  But there is one song that he wrote himself, titled Storyline. The album doesn’t sound really Christmas-ey, with a touch of pop, rock, folk, and some others.  And the arrangements are unique.  Here are my view on the songs:

1.  The First Noel.  This song sounded very… colossal.  Working together with JPCC choir is clearly one of the best decision.  Several parts sounded different, but in a very good way.  I loved the song, i loved the arrangement, and overall, it’s a very good song.

2.  God Rest Ye Merry Gentlemen.  This song started off quite calmly, and it slowly gains momentum, until it ended grandly on the back. Somehow this reminded me of Sting.  I don’t know why.  but i liked it.  It sounded a bit “dark”, but still managed to get the Christmas feel, somehow.

3.  O Come All ye Faithful.  This song has one of a very familiar sound in Gospel music industry: Sidney Mohede.  And the choice of collaboration is awesome.  I’ve been listening to Sidney since a long time ago, and the nuance that he brought to each song is glorified.  Great song, you both.

4.  Storyline.  This song is Billy’s own creation.  And needless to say, my favorite song of the album.  It doesn’t capture Christmas as a religious moment.  Billy captured Christmas with this song, as a “passable” moment, a moment we have to pass every year, nearing the end of the year, a time for contemplation.  And it touched my sentimental side.  A very simple arrangement, sincere and nonchalant, made this song even more enjoyable.

5.  Angels We Have Heard On High.  Honestly, this is one of the most familiar song for me, since i have been singing this from my first time joining a choir, 20 years ago.  But the arrangement that was applied to this piece is awesome.  In addition to “hanging” notes, Billy added a “mumford and sons” feel to it, with Banjo, continuous and consistent kick, it’s just so… folk.  Nice one, Bill!

6.  White Christmas.  This song is not really a Christmas song, who’s with me?  Haha.  This song is about the romantic feelings between a couple, but fortunately the moment they chose to be the background of the story is Christmas time.  Billy and Regina Ivanova (a winner of the other talent show in Indonesia) captured the romanticism very well.  The quality of both singers are unquestionable, and the arrangement that revolves around string instruments is damn sweet.  Kudos.

7.  Hark the Herald Angel Sings.  Another familiar song.  But yet again, i liked how he chose to arrange it majorly as a acoustic singer-songwriter.  Only very few parts of it were made with added instruments (such as harmonica, Aaah-aah, and strings), and that clearly pictured the hallowed feels we wanted on Christmas day.

8.  O Holy Night.  A classic that i sometimes forgot.  Billy seemed to like the quiet opening that slowly builds momentum.  it seems like a lot of instruments are just waiting to play and join in the fun.  This song is a bit dragging, and the arrangement for this one is not that special.  Not that i don’t like it, but i expected more differences.  A good song, but a little “ordinary” for an album like this.

9.  Go Tell It on the Mountain.  Again, i loved how Billy seemed to be having fun with types of songs and arrangements.  A little banjo, a little doo-ing sound, simple guitar + bass combination, close to perfect, i shall say.  Oh and i love how he made this song sounded like a boyband song, where each member got a time to do a solo part, and there are some parts where 2-3 of the singers sing together, and the others alternated on doing overlays. Oh i forgot to say, there are 6 singers in this song: Billy, John Luki, Umbu Kaborang, Winny Jessyca, Ryan Valentinus, and Alfred Agus.

10.  Silent Night.  For me, there is no more suiting song to finish this album rather than this.  A very simple arrangement, very short (around 2.5 minutes only), but he kept it nicely.  Ending the album with a VERY familiar song such as this is a great move.

Overall, i loved the album.  Prime quality vocal by Billy, unique arrangements, and nice packaging is a great plus.  You can get the CD on iTunes, too!

#VisitPetak9, sebuah usaha melawan stigma

Judulnya mungkin terdengar terlalu serius, tetapi ini adalah salah satu alasan saya memulai pembicaraan tentang #VisitPetak9, dan memulai #VisitPetak9, sebetulnya.

Flashback sedikit, ya. Berawal dari keisengan saya saat melihat Mbak Windy Ariestanty membuat proyek @JktOnFoot, yang intinya adalah tur di kota Jakarta dengan jalan kaki.  Hari itu, saya menawarkan diri menjadi guide untuk tur Petak 9 tersebut.  Dan hari itu, saya membawa… 14 orang, kalau tidak salah.  Lucunya adalah, sedikit sekali yang diketahui oleh para peserta tur mengenai daerah Petak 9.  Most of them googled it, dan tentu saja yang tampak adalah hal-hal yang cukup generik: kelenteng Dharma Jaya, pecinan, penganan berbahan dasar babi, dll.

Dan jujur saja, apa yang ada di otak kalian saat saya menyebut kata “Glodok” atau “Petak 9”?  Kebanyakan yang saya tanya, jawabannya adalah: VCD Porno, DVD Bajakan, masakan Babi, Klenteng tua, Orang Cina. Salah?  Tidak.  Sepenuhnya benar?  Menurut saya, tidak.

Kenapa saya menyebut kata “stigma” di judul?  Karena ada beberapa dari predikat-predikat tersebut yang saya kurang suka saat disematkan dengan daerah tempat saya bertumbuh dari kecil, sebut saja Glodok Pride atau Petak 9 Pride.  Dan saya sadar, cara terbaik untuk menunjukkan hal ini, adalah dengan MENGAJAK MEREKA MENYAKSIKAN SENDIRI.  Tapi gimana caranya?

Suatu malam, saya bercerita tentang serunya Petak 9 (berdasarkan perjalanan sebelumnya dengan tim @jktonfoot) di Twitter.  Respon yang saya terima, menyenangkan sekali.  Antusiasme beberapa orang kawan juga membuat saya semakin bersemangat bercerita. Setengah bercanda, saya menggunakan tagar #VisitPetakSembilan2014 dan #DutaPetakSembilan.  Dan ternyata, it caught on.

Sejak saat itu, saya semakin rajin melakukan tur kecil jalan kaki #VisitPetak9.  Oh iya, tagarnya saya ubah, agar lebih pendek dan lebih mudah diketik, agar semakin dekat dengan kebiasaan saya selaku kelas menengah: going to exotic places and twitting about it.  Kebanyakan dari tempat-tempat yang saya kunjungi dalam #VisitPetak9 adalah tempat makan, tentu saja, lihat saja bentuk tubuh saya yang membuat banyak personal trainer geleng-geleng kepala.  Makanannya berkisar dari olahan babi klasik (babi panggang, babi merah), olahan babi fusion (kuo tie, ayam rebus masak ham, sekba), sampai makanan halal (gado-gado Direksi, mie ayam, soto betawi, rujak juhi).  Jadi tenang saja, perut kalian akan terisi penuh.

Berikut ini akan saya bahas beberapa bagian dari itinerary standar #VisitPetak9.

1.  Kopi Es Tak Kie

Kedai kopi Tak Kie ini terkenal dengan interiornya yang sangat vintage.  Selain itu, menurut saya kopinya sangat enak.  Kopi dengan susu seharga 13 ribu, dan kopi tanpa susu seharga 12 ribu.  Seperti namanya “kopi es”, disajikan dingin dan dengan es batu, sungguh mantap.  Terkadang, bunyi gemeletuk es batu dengan gelas yang berbenturan, seperti nada yang merdu.  Andai saja suara tersebut tidak ditelan oleh suara di sekeliling, di mana banyak suara canda tawa dan senda gurau yang volumenya agak terlalu kencang.  Tutup mata, dan rasanya seperti di Hong Kong, serius, coba saja sendiri.

Kedai ini terletak di pinggir jalan kecil, penuh dengan penjaja makanan berbagai jenis di sebelah kanan dan kiri.  Mulai dari Pi-Oh (daging bulus dengan kuah tauco manis), Pi-Tim (daging bulus dengan kuah obat ala Tiongkok), Sekba (jeroan babi masak kecap), Siomay Bandung, Warteg, Mie Ayam, Nasi Campur, Nasi Hainam Ayam, hingga ke Soto Betawi dan Kodok Batu masak sayur asin.  Lengkap. Biasanya, saya membiarkan kawan-kawan memilih makanan mereka sendiri, halal atau tidak.  Jika sepaham, saya merekomendasikan memilih beberapa jenis makanan untuk dimakan bersama-sama.  Perjalanan masih jauh.  Makanan masih banyak.

Tidak sampai terlalu nyaman, tetapi tetap enak untuk makan.
Tidak sampai terlalu nyaman, tetapi tetap enak untuk makan.

Screen Shot 2014-12-18 at 1.32.42 PM

2.  Tian Liong

Masih ingat adegan 500 Days of Summer, di mana Joseph Gordon-Levitt dan Zooey Deschanel bermain-main di IKEA?  Tian Liong ini versi kecil dan oriental dari hal tersebut.  Enggak deh, bercanda.  Tian Liong ini penuh dengan barang-barang yang unik untuk diletakkan di rumah, seperti pepper grindercoffee grinder, tempat bento, hingga pisau sebesar tangan saya.  Dan tangan saya besar, lho.  Oke, lupakan.

Toko ini 3 lantai, dan semakin tinggi lantainya, semakin aneh barang-barang yang dijualnya.  Di lantai 2, akan ada barang-barang industrial grade, dari air fryer, fryer, griller, dst.  Ini adalah tempat yang sangat bisa kalian sambangi jika ingin membuka restoran, tentu saja.  Coba ke lantai 3?  Ada tempat sampah biohazard sebesar anak SD, lengkap dengan vacuum cleaner setinggi lebih dari satu meter.  Jelas, ini bukan bagian yang saya sukai dari toko ini.  Intinya adalah, tempat ini asik, terutama saat mencari barang-barang home appliances.  Bawa ibu-ibu ke sini, selesailah sudah.

500 Days of Chinese Summer, it is.
500 Days of Chinese Summer, it is.
A little bird eye view  dari toko Tian Liong
A little bird eye view dari toko Tian Liong

3.  Gedung Chandra

Ini adalah… Grand Indonesia-nya Jakarta Barat di tahun 1980-an: The go-to place saat ingin menghadiahi seorang anak yang berprestasi di hari pembagian rapor.  Saya ingat saat saya berusia 5-6 tahun, diajak pergi ke Chandra adalah sebuah hadiah tersendiri.  Sejujurnya, saat sekarang mengunjunginya, rasanya hanya seperti ke ITC.  Penuh dengan orang belanja dan berjualan barang-barang yang… standar.

 

Tapi untungnya, saya mengenal bangunan ini jauh lebih lama dibandingkan orang-orang lain.  Saya tahu bahwa di gedung ini ada tempat dingdong tua, ada foodcourt yang sangat vintage, ada foodcourt yang memiliki panggung karaoke untuk opa-oma Tionghoa unjuk kemampuannya bernyanyi, bahkan sampai ke pameran guci dan furnitur ala Tiongkok yang tidak pernah selesai.  Oh, dan tempat ding-dong yang super vintage.  Harga per koinnya… 750 rupiah. Nanggung banget, ya?

Ini pameran Furnitur Tiongkok yang gak abis-abis itu.
Ini pameran Furnitur Tiongkok yang gak abis-abis itu.

4.  Gereja Santa Maria de Fatima

Ini adalah salah satu destinasi yang biasanya saya tanyakan terlebih dahulu kepada masing-masing peserta: “Mau, nggak?”  Bukan khawatir apa-apa, saya nggak mau nanti ada peserta yang meng-upload foto interior Gereja kemudian saya dihujat karena dianggap Kristenisasi (iya iya, bercanda).  Dari luar saja sudah kelihatan kok, Gereja ini beda.  Di mana lagi kamu bisa melihat Gereja dengan dua patung Kilin dari Mitologi Tiongkok sebagai “penjaga pintu”?  Biasanya, saat tidak sedang digunakan atau dirawat, saya bisa mengajak kalian masuk, kok. Lihat-lihat, foto-foto.  Bahkan Patung Yesus dan Bunda Maria memiliki papan nama dengan tulisan Kanji Mandarin. Percampuran kultur yang keren, menurut saya.

Gereja Santa Maria De Fatima
Gereja Santa Maria De Fatima

 

5.  Vihara Dharma Jaya & Vihara Dharma Bhakti

Salah satu peserta pernah juga secara bercanda menyebut perjalanan #VisitPetak9 ini sebagai sebuah KongHuCu-nisasi, karena kita mengunjungi dua kelenteng/vihara.

Vihara Dharma Bhakti (atau disebut juga Cing Te Yen) adalah salah satu Vihara tertua dan terbesar di Jakarta, saya sudah sampai bosan melihat banyaknya coverage di media tentang Vihara ini.  Tempatnya besar, karena lebih seperti “kompleks bangunan” (ada beberapa bangunan di dalamnya), tetapi saya kurang merasa nyaman karena pada saat-saat tertentu, jumlah pengemis dan gelandangan yang berdiang di sini agak terlalu banyak (petugas lokal sampai harus membatasi dengan tali atau rantai).  Tetapi, tempat ini bagus dan asri di beberapa sudut (dengan keberadaan taman bunga, misalnya), dan tempat sembahyangnya pun megah.  Obyek foto yang bagus, lah.

Screen Shot 2014-12-18 at 1.32.56 PM Screen Shot 2014-12-18 at 1.33.06 PM

Saya pribadi memiliki kedekatan dengan Vihara Dharma Jaya (Toasebio), karena tadinya “tepekong” ini tersambung dengan pintu belakang rumah saya.  Oh, dan tukang soto tangkar di depannya adalah langganan dari saya masih berusia 5 tahun (sudah tiga generasi, lho).  Di sini, kalian bisa “Ciam Si” (saya nggak tau penulisan yang tepat seperti apa, bunyinya begitu), yaitu semacam “meramal nasib” dengan media berupa sekumpulan sumpit yang dikocok hingga salah satunya jatuh.  Sumpit tersebut kemudian dicocokkan dengan lembaran hasil, yang berisi beberapa aspek seperti kesehatan, cinta, bisnis, dan lain-lain.

Contoh hasil Ciam Si
Contoh hasil Ciam Si

Okay, itu kira-kira lokasi-lokasi yang dikunjungi di #VisitPetak9.  Tetapi, melihat tubuh saya, kalian harusnya paham bahwa saya jauh lebih menikmati makan daripada jalan-jalan.  Oleh sebab itu, saya tawarkan beberapa tempat makan sebagai berikut: Mie Awen, Mie Apo, Mie Akwet, lah kenapa Mie semua? ganti ya. Soto Tangkar, Nasi Tim Pasar Pagi, Sekba, Kuotie Shantung 68, Ayam Goreng Pancoran, Rujak Shanghai, Rujak Juhi, Gado-Gado Direksi, Soto Betawi Afung, Kari Ayam Lam, oke saya lapar.  Saya sudahi dulu ya.  Kalau ingin ikutan, atau tahu lebih lanjut, hubungi saya saja di LINE: dwikaputra.

Here's a bonus, Kuotie dan Jeroan Babi (Sekba Usiangju)
Here’s a bonus, Kuotie dan Jeroan Babi (Sekba Usiangju)

Sampai jumpa!

(photo credits to the blogs and twitter of: @aralle, @ms_renny, @OngDedy, @doggudoggu, @dwikaputra, @natalixia, @sabaiX, @euniceapril)

You Can NEVER Please Everyone

Disclaimer:

Tulisan ini akan berisi tentang politik, membahas tentang pelajaran yang saya tangkap dari polemik panjang perpolitikan di Indonesia dan Jakarta, terutama sejak Pilkada 2012 kemarin.  Jika Anda tidak berkenan dengan topik ini, saran saya, jangan lanjutkan membaca. 

Terkadang, pembelajaran datang dari hal yang tidak menyenangkan.
Dibenci orang, salah satunya.
Beberapa hari yang lalu saya melihat kembali gambar yang sempat “ramai” pada tahun 2012 silam.

cantpleaseeveryone

Waktu itu sedang membahas mengenai Pilkada (dan yang beredar adalah versi terjemahannya), bahwa langkah apapun yang diambil akan selalu disalahkan.  Sempat mencuat lagi beberapa bulan belakangan karena pilpres, dan beberapa hari yang lalu karena pemilihan kabinet.

Bapak Joko Widodo, sebagai seorang presiden, memiliki begitu banyak oposan, bahkan sebelum beliau mulai bekerja.  Dari saat mengajukan diri menjadi Gubernur DKI, beliau sudah “dilawan” oleh begitu banyak orang.  Terlebih lagi saat beliau mencalonkan menjadi presiden.  Segala macam tuduhan dicetuskan.  Yahudi, Islam Abangan, Syiah, Kristen, Cina, mungkin kalau diberi waktu lebih lama lagi, tuduhan bahwa beliau adalah Alien, Dajjal, Lord Zedd, atau bahkan Goldar, akan muncul.

Akan tetapi, beliau memiliki banyak pendukung yang juga sangat loyal, yang mendukung dari di Solo, Jakarta, hingga ke RI-1.  Pendukung-pendukung ini pun tidak semuanya 100% ABS (Asal Bapak Senang), terbukti dari saat Bapak Jokowi ingin memilih wakilnya.  Berbagai nama dari Gita Wirjawan, Mahfud MD, Muhaimin Iskandar, hingga Rini Soemarno muncul ke permukaan.  Yang terpilih akhirnya adalah seorang veteran di dunia politik, Bapak Jusuf Kalla.  Lantas, semua senang?  Tidak.  Mencuatlah ucapan “now we have to choose the lesser of two evils“, bersamaan dengan beredarnya video Pak Jusuf Kalla yang mengatakan “negara kadang butuh preman” (atau sejenis itu lah, saya lupa).  Jokowi maju terus.

Saat pilpres, setiap ucapan dan gerak-gerik Jokowi dipersalahkan.  Jokowi pimpin Shalat, dibilang pencitraan.  Jokowi tidak pernah terlihat lagi pimpin Shalat, dibilang “tuh kan, kemarin itu cuma pencitraan”.  Jokowi naik ojek, dibilang “nggak pantes ih jadi presiden”.  Jokowi naik mobil mahal, dibilang “pemborosan”.

Sejujurnya, saya bosan dengar berita tentang Jokowi yang hanya dimanfaatkan oleh portal berita, “Jokowi ke pasar naik ojek”, “Jokowi makan nasi rames”, bahkan sampai “Jokowi pakai sepatu dari Cibaduyut”, tetapi saya lebih bosan lagi mendengar setiap orang yang mencari kelemahan dari setiap berita tersebut.  Can’t we just accept the fact that he is a superstar at that time, so that his news value is THAT big?  Move along, do our work as usual. 

Ketika pemilihan kabinet kemarin pun sama saja.  Setiap rumor yang keluar, “pak W jadi menteri X”, “Pak Y jadi menteri Z”, dan seterusnya, langsung berbuntut polemik (bahkan ada petisi menolak dua orang calon menteri, pada saat sebuah Broadcast Message yang entah dari mana asalnya, menuliskan formasi lengkap menteri di Kabinet yang bernama Kabinet Indonesia Hebat).  Di satu sisi, saya sangat senang karena menunjukkan adanya tingkat interaksi dan kepedulian yang besar dari masyarakat terhadap politik.  Di sisi lain, menurut saya berlebihan.  Sebelum ada berita resmi, janganlah terlalu reaktif.  Menurut saya lho, ya.

Dan kemarin, Kabinet yang diberi nama Kabinet Kerja, diumumkan.  Laju linimasa Twitter saya begitu cepat, seperti saat gol tercipta di saat pertandingan piala dunia disiarkan.  Semua orang bereaksi terhadap setiap nama menteri yang diumumkan.  Dan, hasilnya cukup beragam, dari “NGAPAIN SIH ADA NAMA DIA DI SITU!” sampai “AKHIRNYA! PENANTIAN SEPULUH TAHUN!”.  Kebanyakan dari kalian pasti tahu, siapa yang saya maksud. :)

Kembali ke topik pertama, “you cannot please everyone”.  Saat ini, sudah terpilih Kabinet Kerja yang akan membantu Pak Jokowi dan Pak JK di 2014-2019.  Banyak yang tidak senang, tetapi banyak pula yang senang.  Saya termasuk yang “cukup” senang.  Beberapa nama yang saya “amit-amit”-kan, tidak muncul di sana.  Tetapi, beberapa dari mereka sama sekali tidak saya ketahui kinerjanya (sebagaimana kebanyakan awam politik lainnya).  Yang bisa saya lakukan saat ini hanya memberikan mereka “benefit of a doubt”.  They are innocent, until proven otherwise.

Lalu bagaimana kalau ternyata tidak bisa kerja?  Ya, lawan.

Sementara itu, mari kita seruput secangkir teh atau kopi, sembari menikmati hari-hari awal (honeymoon phase, istilahnya) dengan pemimpin yang merakyat dan membumi, dengan kabinet yang menjanjikan untuk bekerja bukan untuk mencitra, dan dengan pelaksana tugas Gubernur DKI yang seperti koboi, yang menghantam setiap penjahat bahkan sebelum mereka sempat menyentuh pistolnya untuk melawan.

Saat ini, i AM happy.