Bisakah Saya Berkontribusi?

Jakarta, Indonesia, bahkan Dunia, memiliki banyak sekali masalah.
Banyak hal yang membuat saya berpikir bahwa mungkin kita yang hidup di bumi saat ini ditakdirkan menjadi generasi terakhir yang akan menghuni batu besar ketiga dari matahari ini.

Akan tetapi, saya harus mengakui bahwa belakangan ini ada begitu banyak inisiatif yang berusaha “mengembalikan fitrah” bumi ini untuk menjadi tempat tinggal yang lestari, bukan hanya untuk generasi kita, tetapi juga untuk anak cucu kita.

Saya ingin berkontribusi.

Tetapi awalnya memang terkesan bahwa inisiatif-inisiatif “besar” tersebut seolah tidak terjangkau oleh saya. Ada tim yang berusaha menambal lubang ozone, ada tim yang berusaha menghentikan kelaparan di benua Afrika, dan sebagainya. Untungnya, saya menemukan artikel ini . Ternyata, saya bisa berkontribusi dari hal-hal kecil.

Saya mulai membiasakan menekan tombol flush kecil di kloset, saya mematikan keran setiap kali menggosok gigi, dan sebagainya. Terkesan kecil, tetapi selama saya bisa berkontribusi, saya cukup bahagia.

Bagaimana dengan sekitar kita?

Salah satu masalah terbesar di Jakarta, kota yang saya tinggali selama 28 tahun, adalah kemacetan. Saya rasa kita bisa menyetujui hal ini. Lalu, pertanyaan sejuta dolar pun muncul lagi: Dapatkah saya berkontribusi juga tentang masalah ini?

Saya sangat jarang menyetir. Saya secara sengaja pindah ke tempat kos yang hanya sejarak jalan kaki dari kantor, agar tidak perlu mengeluarkan ongkos lagi. Hal yang awalnya hanyalah berdasarkan alasan ekonomis, tetapi ternyata membantu juga. Kemudian, beberapa hari yang lalu, saya melihat video dari Andira Pramanta, judulnya saja sudah sangat provokatif: “Solusi Macet Jakarta”. Tonton videonya di sini: https://www.youtube.com/watch?v=-M-wLfLwryw.

Salah satu bagian yang penting di sana adalah: “Pilihan hanya dua: beradaptasi, atau menjadi solusi”. Video ini adalah pertama kalinya saya mengenal tentang GrabHitch. Meskipun sebelumnya sempat ada beberapa activation di media sosial, ini pertama kalinya saya sungguh tertarik.

Terima kasih, Andirdor.

Jadi, apa itu GrabHitch?
Sebuah layanan yang memungkinkan pengemudi motor untuk “menyewakan” kursi kosongnya kepada orang lain. Meskipun dibilang “hitching” (menebeng), tetapi ada bayaran yang diterima. Daripada kursi kosong, lebih baik diutilisasi, bukan?

Beberapa fitur yang membuat saya tertarik sebagai penumpang:
– Pemesanan bisa dilakukan dari 7 hari sebelum keberangkatan, hingga 30 menit sebelum keberangkatan.
– Ada opsi “same-gender”, sehingga memastikan para wanita mendapatkan pengendara wanita juga (jika memilih demikian), dan para pria juga mendapatkan pengendara pria. Buat saya, ini cukup membantu karena saya berbadan besar, sehingga terkadang tidak enak hati bila mendapatkan pengemudi perempuan. Karena manuver-manuvernya jadi jauh lebih berat, nggak tega.

Beberapa fitur yang membuat saya tertarik sebagai pengemudi:
– Tidak ada perjalanan yang sia-sia, karena kursi kosongnya bisa disewakan. Apalagi jika rutenya setiap hari dilewati.
– Bisa mendapat teman baru. As much as people might be skeptical about this, saya beneran dapat teman baru dari naik GrabBike. Nantikan cerita saya soal ini di Twitter. :))

Harapan saya, ini bisa menjadi bentuk kontribusi kita terhadap masalah kemacetan, dan masalah pelestarian alam.

Btw, kalau mau daftar GrabHitch, bisa ke http://bit.ly/GrabHitchID ya.

Don’t start by saying “I can’t”, but start by saying “can i?”

My Passion is Life

“Passion loe apa?”

Pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab setiap orang dalam hitungan detik ini, ternyata menjadi pertanyaan tersulit untuk gue jawab dalam sebuah “interview” dengan sebuah brand beberapa hari sebelum ini.

Kenapa?
Karena saat itu gue tiba-tiba berpikir, bahwa gue nggak tau passion gue apa. Setelah lebih dari seperempat abad gue hidup di dunia ini, dan nyaris satu dekade gue memasuki dunia kerja, gue nggak tau passion gue apa.

What.
The.
Frack.
*cue SFX gelas pecah dibanting*

Sejak umur 13 tahun, selama kira-kira 10 tahun, gue berkecimpung di pemrograman, dari lomba-lomba, project-project, sampai ke pekerjaan full-time. Dan gue sangat suka programming, karena gue merasa bisa memanfaatkan sisi kreatif gue tanpa membuang sisi logis.

Lalu gue masuk ke 2009, di saat gue belajar fotografi, dan “kecemplung” sampai jadi fotografer dan videografer yang dibayar secara profesional. Seingat gue, sampai tahun 2014 pun gue masih menerima gig untuk memotret di acara-acara. Dan gue nggak mungkin sampai sejauh itu kalau nggak suka, right?

Sejak TK, gue selalu tertarik dengan musik, tapi gue nggak pernah benar-benar masuk ke dunia musik sampai tahun 2010, saat gue berani untuk benar-benar mulai membuat lagu, membuat karya, dan membuat musik. And i always come back to music ever since.

Berlanjut ke tahun 2011, di mana gue menemukan suatu “kesukaan” baru dalam dunia standup comedy. Dari open mic, standup show bersama komunitas, tampil di TV, sampai berhasil “mencoba” menyambangi skena standup comedy di Malaysia, gue nggak pernah menyesal sedetik pun.

Di luar itu, kesukaan gue terhadap berbagai hobi-hobi lain seperti boardgame, menulis, sampai dunia digital, nggak pernah berhenti.

Makanya pertanyaan di kalimat pertama tadi menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk gue jawab. Sedikit lebih sulit dari pertanyaan “ada apa di balik jenggot Sinterklas?”

Btw, jawabannya adalah “jenggot lain yang lebih pendek dan berwarna hitam”.

Oh kalo jawaban untuk pertanyaan “Passion loe apa?” tadi, gue mengeluarkan jawaban sebagaimana di judul tulisan ini. Mungkin terdengar klise, tapi itu yang gue rasakan.

Sinonim terdekat yang bisa gue temukan untuk kata “Passion” dalam bahasa Indonesia (yang artinya sesuai ya), adalah “kecintaan”. Memang terjemahannya adalah “hasrat”, tapi nggak nyambung, ah. *ditabok*. Tapi buat gue, kecintaan itu gue temukan di dalam hidup.

Yang menjadi kecintaan gue adalah hidup. Semua aspek dalam hidup, dari yang seru, yang membosankan, yang menyenangkan, yang menyedihkan, dan lain-lain. SEMUA. Karena itu, setiap harinya, yang gue lakukan adalah membuat hidup gue lebih seru dan lebih menyenangkan.

Ada tiga hal yang gue pelajari untuk membuat hidup lebih seru:
– Meet new people,
– Make new ideas,
– Do new things.

Temui orang-orang baru, karena dengan demikian kita akan bisa dapat ide-ide baru. Dari ide-ide tersebut, cari yang feasible untuk dilakukan, lalu lakukanlah. Terdengar susah-susah gampang, tapi kalau udah dilakukan, bikin kecanduan. Serius.

Okay, i’m rambling again.
But this is basically what i want to say: It’s okay to not HAVE a passion, or to not KNOW your passion, but it is not okay to DENY your passion.
Gue memilih untuk menerima kenyataan bahwa passion gue ada banyak, meskipun beberapa orang bilang gue “maruk” atau “serakah”. Tapi kalau kenyataannya memang demikian, ya jangan disangkal.

We only have one life, live it, and live it gracefully.

Jadi, passion loe apa? :)

Mulai Berinvestasi dengan #InvestasiCerdas

Berinvestasi.
Sadar ataupun tidak, ini adalah sesuatu yang kita lakukan sehari-hari.
Investasi uang.
Investasi tenaga.
Investasi waktu.
Tapi kali ini, secara sadar saya sungguh-sungguh berinvestasi pada bidang yang paling dikenal pada saat menyebut kata “investasi”: investasi keuangan.
Ya, memang kata “investasi” biasanya terdengar angker, menyeramkan, dan terkesan didominasi oleh kalangan berdasi dan berjas mengkilat. Tapi, saya mematahkan anggapan tersebut.
Suatu hari di bulan Mei, saya berkesempatan untuk hadir di sebuah sesi yang bertajuk ‪#‎InvestasiCerdas‬, yang diadakan oleh Mandiri Sekuritas bekerjasama dengan BEI. Itu adalah kali pertama bagi saya, memasuki ruangan trading di Bursa Efek Indonesia. Kesan angker itu memang masih saya rasakan, tapi entah mengapa rasanya berbeda dengan kesan yang saya sering lihat di film-film. Tempatnya sangat rapi, sangat futuristik, sangat… ramah.
Sesi dimulai,
Pembicara-pembicara sudah siap di kursinya masing-masing.
Pembicara pertama, Bapak Davi dari Bursa Efek Indonesia. Penjelasannya sangat lugas, mudah dimengerti, dan berkutat di sekitar pernyataan bahwa “semoga semua orang setelah ini bisa menjadi investor, bisa berinvestasi.” WOW. Pernyataan yang simpel tapi maknanya dalam. Karena beliau langsung meruntuhkan ketakutan saya bahwa investasi adalah milik kaum tertentu. Semua orang memang seharusnya bisa berinvestasi. Menurut beliau, pentingnya semua orang berinvestasi juga berhubungan dengan keadaan pasar modal saat ini. Pasar modal kita “dikuasai” oleh investor asing. Jadi, wahai para jagoan social media yang selalu ngoceh “Anti Asing”, ada lho cara yang mudah untuk berkontribusi: berinvestasilah.
Pembicara berikutnya, Ira dari Mandiri Sekuritas. Memulai dengan pernyataan yang mencengangkan lagi: “Anda berada di jalan yang benar untuk masa pensiun yang lebih baik”. Dia melanjutkan “Investasi terlihat rumit, tapi sama sekali tidak.” Saya hanya bisa manggut-manggut. Karena untuk saya pensiun yang nyaman diperoleh dengan bekerja di perusahaan yang bagus dan bersedia membayar sangat tinggi, bukan investasi. Little did I know, the session will change my mind.
Ingat, bedakan tabungan dengan investasi. Tabungan berfungsi sebagai simpanan, investasi bertujuan mencari keuntungan.
Lanjut, dari mbak Paramita Sari, divisi Edukasi Bursa efek Indonesia. Saya tertarik sekali dengan sesi ini, karena begitu banyak penjelasan yang menggelitik tawa. Seperti “Gadget selalu terbaru, cicilan bikin terharu”, dan “Liburan ke luar negeri, liat tagihan ngeri!” Selain frasa-frasa catchy tadi, yang saya juga ingat satu hal lagi: “yang penting 3i: Insyaf, Irit, Investasi”. Insyaf artinya sadar bahwa utang 100 juta dalam bentuk cicilan gadget dengan utang 100 juta dalam bentuk cicilan rumah, beda nilainya. Irit: menyadari bahwa semua uang hasil kerja kita “lari” ke produk. Susu yang kita minum, roti yang kita makan, ranjang yang kita tiduri. Sehingga kita lebih menyadari nilai uang. Investasi: menyadari pentingnya pengelolaan aset, karena kita harus siap menghadapi inflasi, memikirkan peningkatan kekayaan, menghalau ketidakpastian, memenuhi kebutuhan, dan menjawab keinginan. Investasi juga disebut menyiapkan masa tua, karena saat itu mungkin sebagian besar dari kita tidak memperoleh pendapatan.
Intinya, investasi hanya terdiri dari 3 langkah: buka, pelajari, beli.
Simpel, ya?
Setelah itu kami juga mendapat ilmu-ilmu trading dalam bentuk sharing oleh pak Fahd yang sudah menghabiskan 9 tahun di lantai bursa. Belajar istilah-istilah dan trik-trik berinvestasi. Apa saja? Rahasia dong. Kalau mau tahu, boleh nanya-nanya lagi ke saya :p
To recap it all:
Berinvestasi terdengar menyeramkan, terdengar sulit, merepotkan, dan lain-lain. Akan tetapi, jika dicoba, sebetulnya jauh lebih sederhana dari yang kita bayangkan. Mau ngobrolngobrol soal berinvestasi? Yuk kita ngobrol lebih lanjut di LINE: dwikaputra. Nanti saya kenalkan juga dengan yang lebih berpengalaman, seperti simbok @venustweets misalnya!
Kalian bisa cek juga di http://bit.ly/investwitdwika untuk melihat twit-twit saya sepanjang sesi tersebut.
Semoga bermanfaat!

Kina Grannis in Jakarta – An Objective Met

16th of September, 2015,

will forever be remembered as the day I ticked the second mark on my “to meet” list: I attended the concert of Kina Grannis.

Why, you asked?

I started doing music on 2007. But at that time, i was never brave enough to actually tell people that i do. In my head, music is an exclusivity. It’s reserved for people who are incredibly talented and gifted, and willing to spend a fortune to do it.

But then Youtube happened.

I believe Youtube happened way later in Indonesia rather than in the US.  Exhibit A: the time i discovered the three people on that so called “to meet” list, they were already Youtube stars. The three were: Gabe Bondoc, AJ Rafael, and Kina Grannis.

I don’t even remember where or how did I stumble upon their channels, but I just did. And seeing their videos, I believe that they are talented, but I also believed that should not be the main focus. The main focus is the love of music. They loved music so much, they’re able to produce a very good one. And that, made me want to start doing music.

I ticked the first one on 13th of January, 2012, AJ Rafael Red Roses concert in Jakarta. And in 2012, apparently Kina Grannis was also coming to Jakarta, but I couldn’t come due to some circumstances.

When I heard she’s coming to Jakarta for a second time, I told myself to not miss it. Little did i know, a gig i took for the 12th of September got pushed back to the 16th, clashing my schedule. A contract has been signed, preparations have been made, thus a cancellation is not a possibility. I gave up, and tried my best to not feel down about it.

3 days prior to the event, I have no tickets. Because I think it’s impossible to attend the event. Then the phone rang.

The job got pushed back for yet another day. I can attend the event.

I tried buying the ticket online, but unforeseen circumstances prevented me to, such as blocked credit card and dead internet connection. When i finally can connect and cleared my credit card, the ticket purchasing site has been closed. I was desperately trying to find the information about OTS tickets, because the promoter was nothing short of the word “uninformative”. No information was posted online, not even about the move of venue (yes, the venue was moved to Teater Salihara). I found out about the venue through Kina’s personal account, and she (or possibly her admin) replied my question about OTS tickets, as well.

Desperately calling here and there (because I was still afraid that the tickets will run out), I contacted one of my friends that have a lot of connections, and finally,

“Dude, two tickets. they’re yours”

I jumped in joy.

Well not literally, otherwise my office would be rubbles now from being an epicentrum of a 4 richter scale local earthquake.

I came to the venue, which I understand is a very intimate venue. Upon arrival, there were NO posters or banners whatsoever. There is a paper, printed with the words “KINA GRANNIS LIVE. ELEMENTS TOUR”. Yeah. Seriously.

But i can see that the attendees (around 150-200 of them) were very enthusiast about the show.

The show?

I don’t think I need to talk about it anymore. It was perfection.

The show was opened by Jesse a.k.a. Imaginary Future a.k.a. Kina’s husband. His performance was stunning, with a hook in the closing greetings “Thank you so much”. His voice was soothing in a way, yet mesmerizing in another. Great stuffs, from happy song to sad song, he nailed it. Kudos.

Next up, Joel Tan a.k.a. Gentle Bones. The 20 years old Singaporean that I only saw several times before, blew the crowd’s minds with his setlist and his band’s distinctive performance. His voice was SO HIGH, it’s almost unbelievable. The music and songs he created were great as well. Carefully written lyrics and well made music were the harmony that completed his performance.

Then, the main woman of the night.

Accompanied by a three piece band (drums, keys, and electric guitar), she answered the hopes and expectations of the almost full room. She acclaimed how she has just arrived on the day before, having a jet lag, thus is unable to perform well. Apparently, she’s a liar. The performance was almost flawless. Despite the few moments where she seemed to struggle from a blocked nose, she was stunning. I. Can’t. Even. *channeling the 2010s kid in me*

But anyway.

The end of the event, a meet and greet was held. Little did i know that i actually have that chance (thank you, Mo, I really owe you a lot). Long story short. I had a chance to shake her hand. I told her how she’s my inspiration on starting music. And…

We took a photo together! :’)

Screen Shot 2015-09-18 at 10.05.31 PM

I’m a happy fan.

Happy. Joyous. Whatever you want to call it.

In a sense, this is a dream comes true.

Review: Blackbox (@RachelTjhia)

Sejujurnya, saya tidak pernah sebegitunya menyukai lagu-lagu “idol”.  JKT48, misalnya.  Selain Heavy Rotation yang sangat ikonik dengan lirik “i love you, i want you,” saya bisa dibilang tidak tahu sama sekali lagu-lagu mereka.  No offense to you who does love them, tho.  They are great performers. :)

BTW,
Pertengahan bulan Juli, teman-teman dari Happy Kingdoms Inc. membuat sebuah acara, HKFest, di mana para idol-idol ini men-showcase performa mereka: dari kemampuan bernyanyi, MC, hingga fan servicing.  Sekali lagi, dari nama-nama yang tampil, saya tidak pernah dengar sama sekali.  Apparently, pengetahuan saya tentang idol dan idol group di Indonesia sangat minim.  Tapi ada satu nama yang cukup familiar: Rachel Florencia.  Beberapa kali jadi penyiar tamu di acara salah satu radio di Jakarta, dan sering kali tampil bersama teman saya Rangga, membuat nama ini tidak asing bagi saya.  Maka, ketika Mario (@fxmario) men-twit sebuah link tentang pembelian CD-nya, saya tertarik mencoba.  Pembelian dilakukan melalui sebuah marketplace, pembayarannya mudah, dan pengirimannya cukup cepat.  Overall: proses pembelian berjalan lancar.  Paling tidak, setengah langkah sudah selesai dengan baik.

Next, saat melihat CD-nya, saya langsung teringat dengan gambar-gambar manga.  Tebakan pertama saya: pasti lagunya jejepangan.  Lanjut ke judul-judulnya: “Overture (Turbulence)”, “Blackbox”, “1000 Tahun Cahaya”, “Sisa Ceritaku”, dan “Edna’s Music Box”.   Entah mengapa, saat membaca judul-judul ini, saya merasa sedikit janggal.  Bahasa Indonesia, bercampur Bahasa Inggris.  Juga, ada dua kata Box di sana.  Apakah Blackbox (kotak berwarna hitam) itu sebenarnya Kotak Musik milik Edna?  Oke, mungkin saya berlebihan.  Perasaan berikutnya adalah penasaran, karena paling tidak ada tiga pertanyaan utama: kenapa 1000 tahun cahaya?  Kenapa Blackbox?  Dan siapa Edna?

So, dig in, we shall!

Overture (Turbulence): lagu ini hanya instrumental, dan berhasil mengawali CD ini dengan permainan string section yang terdengar sangat grande, dan di beberapa bagian terdengar sentuhan yang sangat fairytale-ish.  Sejujurnya, saya kurang paham kenapa ada lagu ini, karena kurang nyambung dengan lagu keduanya.  Beda dengan lagu pertama di album Mylo Xyloto milik Coldplay, misalnya.  Saking “flawless”-nya perpindahan dari instrumental lagu pertama dengan lagu kedua, saya yakin sebenarnya ini adalah lagu yang sama, tapi di-cut seenaknya.

Blackbox: Awal lagu ini agak mengganggu saya, karena saya bersiap-siap untuk lagu upbeat, tetapi dipotong tiga kali sebelum benar-benar masuk ke flow lagu, dan dua kali di antaranya adalah total silence.  Keren sih ada silence-silence gitu, tapi untuk awal lagu kayaknya agak janggal aja. Lagunya ceria sekali, dan suara Rachel sangat “empuk” (bingung harus pakai kata apa) untuk lagu ini.  Suaranya tinggi khas remaja putri, cocok dengan keceriannya.  Dan akhirnya saya tahu kenapa lagu ini dijuduli “Blackbox”.  Analogi yang bagus, dan kalimat penutup chorusnya sangat-sangat catchy.

Seribu Tahun Cahaya: Saya pernah melihat versi live dari lagu ini, meskipun hanya cuplikan.  Saya yakin lagu ini enak.  Dan ternyata, saya benar.  Lagu ini enak, dan rasanya sangat cocok dijadikan OST Anime (yang sudah di-dubbing Indonesia, tentu saja; kecuali Rachel membuat versi Jepangnya).  Saya sedikit terganggu dengan pemotongan suku-suku katanya, tetapi sepertinya ini jamak terjadi di kalangan para idol, ya?  Contoh: “meski de-daunan musim gugur me-nutupi taman ini – mataku takkan ber- kedip”.  Mungkin seharusnya tidak mengganggu bagi kebanyakan orang, tetapi buat saya sedikit mengganggu. Soal selera, mungkin.

Sisa Ceritaku: Lagunya cukup mellow, tetapi dengan aransemen full band-nya, tidak terlalu terkesan sedih.  Lebih seperti lagu “acceptance” bahwa sebuah cerita sudah berakhir.  Lagu ini mengingatkan saya pada lagu-lagu penutup di Anime (iya, kalau Seribu Tahun Cahaya tadi lagu opening, ini lagu ending).  Yang saya salutkan adalah, lagu ini memiliki beberapa progresi yang mengejutkan untuk saya.  Sama sekali bukan lagu yang sederhana, meskipun terdengar paling “pop” dibanding lagu-lagu lainnya.

Edna’s Music Box: Ternyata, ini lagi-lagi adalah sebuah lagu instrumental.  Dengan gaya music box, seperti tergambar pada judulnya, lagu ini berisi petikan singkat dari lagu Seribu Tahun Cahaya, kalau saya tidak salah dengar.  Lagu ini seolah menjadi statement bahwa lagu Seribu Tahun Cahaya adalah “core” dari album ini.  Sebenarnya saya kurang paham kenapa harus ada dua lagu instrumental pendek dalam satu CD, tetapi mungkin untuk alasan keseimbangan CD saja (diawali dan diakhiri instrumental).

Overall, CD ini cukup menyenangkan untuk didengar.  Jika akan dikembangkan jadi sebuah album full, saya akan sangat tertarik untuk mendengar lebih jauh.  Tentunya dengan adanya lagu-lagu yang berbeda-beda dinamika, akan semakin seru untuk dinikmati.

Kudos untuk Rachel!

Yes, I Started Investing!

Yap,

akhirnya, setelah sekian lama berpikir, mempertimbangkan, dan mencari informasi, gue memutuskan untuk berinvestasi. Iya, investasi, bukan menabung.

Emang beda? Apa sih bedanya?

Okay, sejujurnya, sebelum gue ngobrol-ngobrol dengan Mbak Ligwina Hananto (@mrshananto), gue nggak tau sama sekali tentang investasi.  Gue tau ada grafik-grafik saham yang menunjukkan indeks atau nilai saham, tapi itu pun karena ada di halaman koran yang persis berlawanan dengan bagian olahraga.  Tapi karena beliau selalu tanpa kenal lelah men-twit mengenai investasi dan pentingnya mengatur keuangan sendiri, gue akhirnya semakin dan semakin tertarik. Dan akhirnya gue tertarik, lalu gue set ketemuan dengan Mario (salah satu “sales” dari QM Financial, perusahaannya Mbak Ligwina).

Setelah dua kali meeting, gue memutuskan menggunakan jasa financial advisory dari QM Financial.  Dan setelah itu, selama tiga kali meeting, gue “di-drill”, harus ngerti minimal dasar-dasar berinvestasi, membedakan saham, reksadana, pasar uang, dll, bahkan sampai di-tes, profil risiko gue gimana (apakah risk taker, atau konservatif) untuk akhirnya menentukan produk yang mungkin lebih cocok dengan gue.

OH! Ada satu bagian yang menurut gue paling “worth it” – financial check up.  Gue tau banyak artikel yang bisa ditemukan di Google dengan judul kira-kira “cara mengetahui apakah keuanganmu bermasalah” atau sejenisnya, tapi having a professional do it, is a whooooooole different thing.  Cuma tinggal isi-isi excel document, lalu ketauan lah sebenarnya uang kita ke mana, perlu berapa, dll.  Honestly, ini pertama kalinya gue bener-bener mikirin kata-kata seperti “dana pensiun”, “dana darurat”, dll.

Di bagian ini, adalah bagian yang “terpenting” dalam keseluruhan proses: menentukan rencana finansial.  Gue memberikan beberapa “goal” dan “deadline”-nya.  Misalnya: Gue mau punya mobil dalam waktu 2 tahun, dan rumah dalam waktu 4 tahun.  Maka, dengan data dan informasi yang sudah dimiliki, gue dan Mbak Wina mendiskusikan cara mencapainya.  CONTOH: untuk membeli mobil seharga 200 juta dalam 2 tahun, gue harus menabung 200jt/24bulan = 8~9 juta per bulan.  Mohon maaf, tapi bunga bank harus sedikit gue abaikan karena jumlahnya tidak sesignifikan itu.  TAPI, kalau mau mencapai 200jt dalam 24 bulan, dengan reksadana saham X (gue nggak akan nyebut namanya) yang dalam 3 tahun terakhir memberikan return 15-20% per tahun (dan diasumsikan selama dua tahun berikutnya juga akan segitu), maka gue hanya perlu menabung sekitar 6~7 juta per bulan.  Perbedaan yang cukup signifikan, bukan?

Dalam proses ini, gue diedukasi tentang angka-angka yang ditunjukkan: NAV (mudahnya, ini adalah nilai atau harga sebuah unit reksadana), AUM (aset atau total uang yang dikelola reksadana tersebut), return (yang ini nggak usah dijelasin lah ya?), dll.  Dan setelah melihat dan mempelajari, gue memilih (iya, gue memilih sendiri, seru lho) beberapa reksadana yang gue inginkan, tentunya setelah berdiskusi tentang jumlah yang bisa gue investasikan dan alokasikan.

Setelah selesai semuanya, Mbak Wina masih set satu sesi lagi untuk bertemu langsung di bank, untuk langsung membuka rekening reksadana gue.

And that’s it.  I am an investor.  Cepat, ya?

Now let me drop a few knowledge i’ve gotten through the process.

–  Investasi tidak bisa dilihat murni sebagai tabungan.  Tabungan ya nabung, nyari aman.  Investasi ya nyari untung.  Kalau tujuan kamu adalah supaya tidak kehilangan uanglebih baik taruh deposito.  Kalau tujuan kamu adalah mendapatkan keuntungan, ya investasi.

–  Some people are risk takers, some are not.  High risk MIGHT yield higher profit.  Tapi ingat, tidak ada yang PASTI.

–  Reksadana (Mutual Fund) BERBEDA dengan saham.  Gue berusaha memahaminya seperti ini: saham adalah “kepemilikan” atas SATU instrumen investasi: sebuah perusahaan, sementara reksadana adalah “kepemilikan” atas BANYAK instrumen investasi sekaligus (pasar uang, saham, obligasi, dll), dengan bank kustodian sebagai penyimpan uangnya.  Pembelian reksadana dilakukan melalui bank.  Satu reksadana BISA terdiri dari beberapa instrumen investasi.

Let me explain this in a metaphor:

Saham, bisa dianggap seperti bahan makanan.  Misalnya: Saya beli telur seharga 1000 rupiah.  Besok, telur tersebut seharga 1100.  Saya jual, saya untung 100.

Reksadana, bisa dianggap seperti masakan jadi.  Misalnya: saya beli telur seharga 1000, saya beli beras seharga 3000, saya beli kecap seharga 2000, kemudian saya masak menjadi nasi goreng telur sebanyak 3 porsi.  Maka, masing-masing porsi akan seharga 2000 rupiah.  Jika saya jual di saat harga nasi goreng 2100, saya untung 100.  BEDANYA, jika harga telur naik 100 menjadi seharga 1100, saya tidak langsung untung 100 rupiah per porsi nasi goreng, karena harga nasi goreng itu sudah tercampur antara banyak bahan makanan.

LEGENDA: Bahan makanan adalah instrumen investasi, harga bahan makanan adalah harga instrumen investasi, harga nasi goreng telur adalah harga per unit (atau yang disebut sebagai NAV).

BTW, i got these knowledge while learning for myself, kalau ada kesalahan, feel free to correct me. :)

Kalau mau nanya lebih lanjut, boleh.  Mau langsung ke Mbak Ligwina juga bisa, langsung aja ke @MrsHananto.

Setelah ini, gue juga bakal nulis tentang berinvestasi di pasar modal, yang ternyata nggak sesulit yang dibayangkan.  Ditunggu, ya! :p