Terima Kasih, Windows Server 2003

Berkali-kali saya katakan, salah satu hal yang paling saya benci adalah perubahan. Terlebih, ketika perubahan itu berasal dari perpisahan.

Ketika Windows XP dinyatakan mengakhiri servisnya 2013 lalu, saya sedih. Bagaimanapun, itu adalah sistem operasi yang menemani sebagian besar kehidupan berkomputer saya. Setelah pengalaman yang kurang menyenangkan dengan Windows ME (Millenium Edition), kemudahan yang ditawarkan Windows XP sangat “memincut” hati saya.

Kali ini, kabar buruk kembali datang dari perusahaan teknologi berlogo jendela empat warna tersebut. Microsoft Windows Server 2003 juga akan mengalami EOS (End of Service). Mungkin banyak dari kalian yang berpikir “bodo amat, toh saya nggak pernah pakai!” saat membacanya. Akan tetapi, saya memiliki pengalaman sendiri dengan sistem operasi khusus server ini. Ini adalah sistem operasi server pertama yang saya pelajari, dan satu-satunya yang saya gunakan sampai sejauh ini. Sekarang mengerti kan, kenapa ada kedekatan emosional antara saya dengan berita ini? :)

Apa yang dimaksud dengan End of Service?
Artinya, Microsoft tidak lagi bisa memberikan jaminan terhadap sistem kamu yang masih menggunakan Microsoft Windows Server 2003, terutama dalam masalah keamanan, karena Windows tidak lagi mengeluarkan update atau patch terhadap sistem yang sudah melayani lebih dari satu dekade ini.

Apa dampaknya jika saya tetap ingin menggunakan Windows Server 2003?
Dampaknya, maintenance terhadap sistem kamu yang masih ber-OS Windows Server 2003 akan menjadi lebih mahal (karena tidak ada lagi update yang “gratis” dari Microsoft, maka setiap kerusakan terpaksa diperbaiki secara ad hoc). Dampak lain, jika kamu menggunakan Windows Server 2003 di dalam sebuah sistem perusahaan, besar kemungkinannya, hal ini akan mempersulit perusahaan kamu memperoleh sertifikasi atau standarisasi (ISO, misalnya), karena sistem ini sudah dianggap outdated (kuno) dan tidak aman.

Jadi saya harus ngapain, dong?
Kamu harus kuat. *menyeka air mata*
Nggak deng, Microsoft juga bukan perusahaan yang suka bercanda, kok. Mereka tidak akan menghentikan service yang digunakan jutaan orang di dunia ini jika belum ada solusi penggantinya. Saat ini, Microsoft sudah menyiapkan beberapa teknologi pengganti, untuk menjamin bisnis atau sistem kamu tetap berjalan. Malah dengan sistem yang lebih “teremajakan”, sistem kamu bisa menjadi lebih kuat dan aman.

Ya udah, Solusinya apa?
Sepengetahuan saya, Microsoft menyediakan beberapa solusi seperti Windows Server 2012 R2 dan Azure.
Windows Server 2012 R2 adalah solusi “on premise”, yang artinya di-install langsung di komputer server yang ada di tempat kamu. Salah satu fitur andalannya adalah fitur Hyper V, yang mampu melakukan virtualisasi untuk konsolidasi server, sehingg mampu menghemat biaya hardware dan maintenance dari server kamu.
Selain itu, solusi lainnya adalah solusi Cloud computing: Microsoft Azure, di mana server tidak ditempatkan di komputer server kamu, melainkan di lokasi server milik Microsoft. Keuntungannya? Less hassle, less things to take care of. Memiliki server di perusahaan sendiri, berarti kamu harus juga siap dengan pengamanan fisik, untuk menjaga kemananan data kamu. Dari temperatur ruangan server, kelembapan, hingga petugas keamanan. Dengan biaya layanan dari Microsoft Azure, kamu sudah membayar kesemuanya ini, sehingga tidak perlu khawatir lagi. Backup juga dilakukan berkala, lho. Tetap ingin menggunakan on-premise pun tidak apa-apa, Azure bisa dijadikan intermediary service, yaitu servis sementara, selama kamu membereskan infrastuktur on-premise kamu.

Ingat tanggalnya ya teman-teman: 14 Juli 2015
Sebelum tanggal itu, kamu juga bisa mendapatkan bantuan tentang migrasi ini di: http://aka.ms/ws03eos :)

Selamat tinggal, Windows Server 2003. Terima kasih banyak. :)

Review: WestJamNation

Review kali ini, saya akan membahas CD karya salah satu band yang saya “temui” dua tahun yang lalu: WestJamNation.  Kami sempat berbagi panggung di salah satu kafe di bilangan Senayan, dan persepsi pertama saya akan band ini adalah: unik.  Ya, unik.  Perpaduan dari permainan musik yang cukup “ramai” dengan lirik-lirik yang agak “ajaib”, band ini memiliki kesan tersendiri yang tidak lekang dari telinga dan ingatan saya sejak hari itu.

Setelah dua tahun, secara kebetulan saya “dipertemukan kembali” (ini kenapa dari tadi banyak yang harus pakai tanda kutip, ya?) dengan mereka, dan tepat saat itu saya melihat mereka sedang menjual CD ini.  Tanpa pikir panjang, saya membeli 2 keping CD (iya, nanti yang 1 dijadiin hadiah kuis, sabar ya), dan ditunjukkan cara membuka kemasan CD ini yang… UNIK.  Terlalu UNIK sampai saya berpikir “orang ini minum apa dulu ya, sebelum memutuskan bentuk kemasan CD-nya seperti ini?”

Anyway, desainnya cukup masuk dengan selera saya.  Terlihat simpel, tapi dengan tingkat sofistikasi yang cukup tinggi, sebenarnya.  Menurut saya, CD ini bisa, lah, dipajang di rak, tanpa membuat malu.  Keren kok desainnya.

2015-02-25 01.10.09 2015-02-25 01.09.31 2015-02-25 01.09.47

Okay, mari kita review lagunya!

Ada 5 lagu dalam album ini.  Sedikit terlalu sedikit untuk saya, tetapi tentu saja saya berpikir positif, band ini lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas.  Dan ternyata saya 100% benar.  Lagu-lagu di dalamnya membuat saya bertanya-tanya, kenapa band ini belum muncul di panggung yang lebih besar lagi.  Pilihan kata-kata dalam susunan lirik mereka (yang kebanyakan bahasa Indonesia) menurut saya keren, dan musiknya cukup eksploratif.  Penggunaan beberapa alat musik yang tidak “standar” seperti ketipung (kayaknya sih) dan brass instruments, membuat suara sang Vokalis (oiya, namanya Jati) terdengar sangat jujur.  Terdengar seperti orang yang menyanyi seiring alunan lagu yang didengarnya di radio, genuine.

Review per lagu ya!

1.  Di Sini. Lagu yang menggunakan bahasa Indonesia ini sangat cocok untuk menjadi lagu pertama di CD ini, karena lagu ini menurut saya memiliki kualitas untuk menjadi pembuka sebuah konser.  Lagu ini menggunakan kata-kata yang tidak terdengar sok puitis apalagi “menye-menye”, tetapi lebih seperti sebuah “pernyataan” sikap, sebuah ajakan, sebuah gerakan.  Aransemennya terdengar seperti lagu rock 80-an yang diisi dengan riff-riff gitar yang cukup tajam tetapi tidak nyolot.  A great combination.

2.  Love Bus.  Lagu yang berirama cepat ini, di luar dugaan saya, memiliki pace yang justru santai.  Banyak jeda antar kalimat yang dinyanyikan sang vokalis, membuat kita lebih mampu menghargai iringan alunan musik yang sangat seru, menurut saya.  Entah mengapa, sedikit mengingatkan saya pada Kings of Convenience.  Saya sedikit terkejut ketika mendengar adanya suara-suara wanita di sini, tapi justru menurut saya menambah depth dari lagunya.  Ada bagian di mana perkusi (tebakan saya sih ketipung) diberi porsi untuk solo, dan itu menurut saya asyik. Sayangnya, menurut saya, penutupnya terlalu cepat, jadi terkesan “nanggung”.  Kalau live, panjangin dikit, ya! *sok ngasih saran | seolah-olah dibaca sama WestJamNation-nya*

3.  Holiday.  Lagu ini makin membuat saya berpikir musik mereka mirip KoC.  Permainan dinamika yang sangat apik, dari menggebu hingga mendayu, jadi satu.  Kudos to the guitarist(s), sepertinya ini lagu mereka yang iringan gitarnya paling membuat saya mendengarkan dengan seksama.  Di luar tambahan backing vokal wanita, di lagu ini juga WestJamNation sedikit bermain-main dengan efek-efek vokal dan instrumental.  …kok lagunya agak trippy ya?  Asik banget. :)).  Lagu ini, saya berikan dua jempol khusus untuk permainan dinamikanya.  Rich sekali.

4.  Don’t You Know.  Dari awal, terdengar seolah banyak sentuhan Reggae-nya, tetapi saya lagi-lagi dikejutkan.  WestJamNation seperti bartender yang suka meracik berbagai bahan yang mungkin dilihat oleh orang awam sebagai hal yang tidak nyambung, tetapi berhasil disatukan dengan keren.  Menurut sotoy saya, ada beberapa bagian yang justru terdengar seperti “jazzy” banget.  Paling tidak, gaya-gaya di bagian tersebut sering saya dengar dilakukan oleh beberapa penyanyi jazz.  Dan lagu ini mengukuhkan pendapat saya bahwa WestJamNation suka men-showcase kemampuan mereka bereksplorasi, dan mereka memberikan ruang yang cukup untuk para musisi menunjukkan hasil eksplorasi itu.  Banyak sekali part-part instrumental yang membuat saya tertarik mendengarkan berulang-ulang, karena masing-masing instrumen di-showcase bersamaan tanpa terlihat egois.

5.  Sudah Terlambat. LAGU FAVORIT SAYA!  Beneran, lagu ini enak banget.  Semacam lagu-lagu santai yang enak didengarkan sambil meneguk segelas bir dingin (kalo udah boleh ya, kalo belum boleh ya minum air putih aja, tapi tetap harus dingin), atau lagu-lagu pembangun mood untuk bercintalah, alias lagu-lagu foreplay.  Astaga, ngomong apa saya barusan *cuci mulut*.  Pemilihan kata-katanya cukup unik, membuat kita berpikir, sebenarnya lagu ini berbicara tentang apa.  Setiap orang punya tebakan masing-masing, tetapi untuk saya, lagu ini bercerita tentang hal (APAPUN) yang tidak pernah bisa kita tolak.  Semacam sweet sin, dosa manis yang kita tahu adalah hal yang salah tetapi tetap tidak kuasa kita tolak.  Di sini saya berikan satu jempol tambahan khusus untuk Jati.  Tidak mudah untuk menyampaikan emosi dari lagu yang jelas-jelas berbeda (hampir 180º, menurut saya) dari lagu-lagu lainnya, tanpa kehilangan jatidiri suara.  Tetapi menurut saya Jati berhasil menyampaikan pesan lagu ini, dengan tetap karakter suaranya yang jujur itu.  Keren.

Kekurangan album ini, menurut saya, adalah jumlah lagu yang kurang banyak (maaf, saya memang serakah).  Tetapi jumlah lagu yang sedikit itu pula membuat variasinya terlihat sangat tinggi.  Lagu yang menggebu-gebu, lounge, dinamis, cross-genre, hingga santai mendayu.  Jika ada hal yang ingin saya tambahkan, mungkin ending dari masing-masing lagu yang terdengar kurang pas di telinga saya, terdengar… “nanggung”.  Nothing wrong with that, tapi sedikit kurang sesuai dengan selera saya, itu saja.

Bisa dibeli langsung di @WestJamNation ya guys! 😀

Life Struggles

Several days ago, i had a serial tweet in my twitter account about struggles. Let me paraphrase those tweets in a more comprehensive and descriptive set of paragraphs here.

Jealousy, as The Killers said in “Mr Brightside”, really turned the saints into the sea. That lyrics were not made as a bad metaphor to simply suffice the lyrical needs. Countless relationships and friendships have ended due to that one little sad word: JEALOUSY.

The jealousy here doesn’t even have to be logical or rational, it can be of anything. Sure, seeing your loved one date another person is a logical and rational reason to be jealous. Sure, knowing your friend achieve success that s/he does not deserve is a pretty rational reason to be jealous (even though “logical” seems to be stretching it a bit). And that is my sole point: “does s/he deserve the success?”

I was (and probably am) jealous to some of my friends, for i am one of the “left-behind” kid among my peers. But then again one day in 2011, i was reminded that acting like a little kid who is jealous over a friend’s new toy is only going to block my pathway to success even more. From that one epiphany, i decided to change my way, by following these 3 simple rules.

DISCLAIMER: I AM NOT A MOTIVATOR, OR ANYTHING OF SUCH (NOT EVEN A RIGHTEOUS MAN). DO NOT FOLLOW THESE STEPS IF YOU DON’T FEEL LIKE THEY’RE SUITABLE FOR YOU.

1. Do not walk on anyone else’s shoes
Not literally, of course. I still borrowed my brother’s shoes anytime i’m going somewhere hazardous to my shoes (put evil smirk here). I mean, do not put yourself exactly on someone else’s position. Things are different towards people. Not even twins have the same circumstances. “Why does he get a raise and i don’t?” Maybe because your boss is a stingy bastard while his is a happy monopoly man that got his happiness from giving increased salaries to his employees, or maybe he spent 9 hours in the office working to help the company while you spent hours writing a blog post about life struggles. Wait.

Things go differently for people. Deal with it. For some people, life is no more than just fun and games that will reward them handsomely. For some others, it’s full of challenges, but it’s not a reason to give up.

2. Never give up
As cliche as this sounds, i still find this to be highly relevant. I decided to give up once, only to realize that it is one of the worst decision i have ever made. Giving up, even temporarily, will only block your way to your goals with one of the biggest obstacle human ever have to face: IMPOSSIBILITIES. Metaphorically speaking, there is no way a man can move from one place to another if he chose not to move. Unless there is a force stronger than him/her, pushing him/her to the destination. In real life, this would mean you can not be a billionaire with a happy family if what you do is giving up on looking for a way to reach it. Unless the universe decided that you are “the one” like Neo was in the Matrix, and put your name in the will of a multibillionaire who only has 2 days to live.

But seriously, never give up. You can never know how far you are from reaching your success. What if what you really need is just one final push and you decided you will sit back and relax instead?

3. Don’t just let others pull you
Seeing another wo/man’s success is one thing that you can use to motivate you, but as stated in a Zen saying: “Change must come from within”. Have your own drive. Seeing your friends’ success can only pull you so far, but REALLY wanting to reach your own set of goal is what ultimately will bring you to them. See those successful people, find out what do they have and you don’t, and find out how to make up for that handicap. They’re from a rich family and you are not? Don’t just say “damn it i wish i was born in a different family”, go find what advantages it brings them, then find a replacement that can bring you the same advantages. For example: “it gives them unlimited supply of money”, then you need to find a person or institution that will bring you the same advantage. I never said i know how to, i just said that you need to. *kidding*

But i guess what i really wanna say is, don’t just sit down and accept your disadvantages, find a way to go around it.

I PERSONALLY think, these three points are quite valid. Tell me what you think.
Let’s be ourselves, and work our own ways, to reach our own goals.
and to quote Barack Obama:
Yes, we can. :)

Hands on Samsung GALAXY Note 4

I was never a big fan of touch screen. You can ask my family about that.

That fact didn’t really change after i ditched my Blackberry phone and switched to Samsung GALAXY S3 Mini.  My main problem is with typing on it.  It was quite slender, and typing without the feel of “buttons clicking” didn’t really float my boat, especially when it’s sprinkled with a dozen typos.

But that actually changed this January, when i got my eyes (and finally hands) on Samsung GALAXY Note 3.  For a big guy like me (which left me with big hands, in proportion to my body size), mobile phones like Samsung GALAXY Note series are awesome. At least i’ve got a decent space for my fingers (especially my thumb and index) to move around.  I kid you not.

And what really intrigued me into switching to Note 3 is the S-Pen.  I saw a wide possibility of its use, and i proved it right. The S-Pen helped me through a lot of meetings and brainstorming sessions, something that i do A LOT.  The fact that i am a multitasking person is also assisted by the multi-window feature of Note 3.  I felt like i met my equal partner.  Well, you know, phone.

And yesterday i just got the chance to experience GALAXY Note 4, Samsung’s newest addition to the line.  Actually i really wanted to try GALAXY Note Edge, it looked awesome, but for some reasons i think i am going to save up to get a Note 4 instead. Apparently, i’m a straightforward kinda guy.  Pun very much intended.

By the way, here’s how my hands-on experience went.

The trainer (Mr. Deddy from Samsung Indonesia) said that there are 4 main advantages of GALAXY Note 4:

–  Superb Display

…do i need to explain this? The picture quality is awesome.  I heard it’s AMOLED, which is cool.  And its quality is no longer HD, it’s Quad HD.  I wish i can show how much the difference is, but i can not. Sorry.  I can only say that the details on the display is awesome.

–  Longer Battery Life & Faster charging

3000+ mAh, bigger than all the phones i’ve ever had before.  I really hope i can say goodbye to all those moments of “damn it i have more battery life to capture this moment” with this expanded battery.  And as if it’s not helping enough, there’s another thing: FASTER CHARGING.  The phone can charge from 0-50% in 30 minutes. Okay, that intrigued me… much.

–  S-Pen Smart(er) Select

Why did i do the “(er)”?  Because it IS better.  GALAXY Note 3 has had this feature, but Note 4 had it better.  Let me give a little explanation.  Smart Select allows you to treat your phone screen as a smart canvas.  Whatever is captured on the screen, can be converted into editable objects.  For example, a photo of a person can be converted into traceable objects that you can edit, point-by-point, curve-by-curve, or edge-by-edge.  Or another example, and this is my favorite, i just tried it yesterday: i can point my phone on any text (real life text, such as posters, billboards, etc) while on camera mode, then choose smart select, highlight the area in which the text is located, and… it’s converted to editable text that you can copy and paste to any other app such as messaging or S-Note.  Myself, i think this is handy (all hail digital agencies and their brainstorming sessions).

20140916_110206_Richtone(HDR)
Multi-window, PC Style, neat.

–  Camera

Alright, this is the most fun part to be talked about, seriously.  The camera (both rear and front) served a great function.  The rear camera is not much of a difference, except for better sensor and bigger megapixels and faster autofocus.  Oh and they have OIS (Optical Image Stabilization), too…Wait that is much of a difference.  I just reckoned that their rear camera is getting way better.  Hmmm.

20140916_112332
A wide selfie from the stage.
Pardon my face.

Their front camera seemed like Samsung’s statement of supporting selfies.  After the term “WeFie” that they coined altogether with NXMini, then comes the “Wide Selfie” with Note 4 front camera.  What is that?  It’s like selfie, but you can swivel your camera to the left and right soon afterwards, up to almost 180 degrees, making the people on your left and right equally participating in your selfie.  Plus, there’s an HRM sensor on the back (nearby the rear camera), allowing you to treat your front camera like a urinoir (…wait this doesn’t seem like a good metaphor), because you can trigger the front camera to shoot a pic by releasing your finger from the sensor (after previously triggering the autofocus by putting your finger ON the sensor).  This removed the possible blur that might be caused by the pressure from your thumb on the capture button.  Helpful, ain’t it?

20140916_111356_Richtone(HDR)
the aforementioned HRM sensor

This is also a good chance for me to try some of the other product.  And myself, i thought the Gear-S is a huge improvement from Galaxy Gear.  I got to try on the Galaxy VR, but sadly no action has been able to be done at that moment, so i literally just tried it on.

Oh here’s a photo of the Gear-S.  Don’t mind my face, please.

Gear-S with... me?
Gear-S with… me?

Okay, so far i decided to buy this phone, with one exception: if somebody buy one for me.
Oh, and another exception: if by the time it launched, i don’t have enough money.

…so, buy me one, please?

20140916_121106
with fellow first-experiencer.
(…is there such word?)

Take That Turn

Tidak, ini bukan post mengenai band yang digemari remaja pada medio 90-an. Ini hanya sedikit buah pemikiran dari sesi nganggur yang cukup lama sepanjang perjalanan penuh kemacetan dari Gandaria ke rumah saya.

Ceritanya, saat menuju sebuah Gereja tempat saya akan mengisi acara, saya berbincang dengan dua orang kawan saya di dalam mobil, Alvin dan Garry. Garry yang adalah seorang drummer Jazz, seperti biasa, menyetel radio dengan alunan musik… well, Jazz. Tiba-tiba, Alvin mengeluarkan sebuah perkataan yang “aneh”. “Gar, coba tolong ganti radionya, random aja, klik sembarangan” (oh iya, radio mobil Garry memang touch-screen). Lalu Garry memencet sembarangan, dan sebuah lagu yang tidak terlalu familiar mulai mengalun, sebelum dipotong oleh seorang penyiar yang juga tidak kami kenal suaranya. Karena saya mengantuk, saya tidak terlalu ambil pusing tentang hal tersebut.

Malamnya, setelah tampil, kami makan di sebuah warung dengan makanan paling “hits” di dunia: Indomie. Saat mengobrol, Alvin tiba-tiba mengutarakan alasan kenapa dia meminta sebuah saluran radio sembarang untuk diputar. “Gue mau coba mengubah kebiasaan gue”, katanya. “Gue pernah baca, kita harus terus mengubah kebiasaan kita, supaya proses kreatif kita nggak mentok”. Well, saya pernah mendengar sebuah “pidato” dari Yoris Setiawan tentang hal itu, this is nothing new. Tapi kemudian dia mengeluarkan sebuah pernyataan lain, “gue mau cari pacar deh kayaknya”.

*hening*

HAH? Kenapa jadi nyambungnya ke sana yak? :))

Tapi intinya adalah, menurut dia, mungkin “memiliki seorang pacar” adalah perubahan yang dia butuhkan untuk tetap menjaga kelangsungan proses kreatifnya.

Dan secara tidak langsung, ini berkorelasi dengan keadaan gue. Gue adalah seorang “pemusik” yang suka membuat lagu. Kebanyakan lagu yang gue buat (seperti tercantum di “Tale of a Name”, mini album pertama gue) adalah tentang kisah cinta, baik permulaan maupun akhirnya (iya, saat jadian atau saat putus). Berarti, proses kreatif gue (membuat lagu) berlangsung saat ada perubahan (dari single ke in a relationship atau sebaliknya). Hey, i can’t believe that actually happened, but it did.

Inti dari post ini bukan untuk meng-encourage kamu yang single untuk berpacaran atau sebaliknya (yang lebih parah) meng-encourage putusnya kamu yang masih berpacaran. Inti penulisan saya ini adalah: perubahan itu diperlukan. Sekecil apapun, seremeh apapun. Pernah dengan ungkapan “get out of your comfort zone”? Menurut saya, tidak perlu 100% keluar. Anggap saja comfort zone Anda adalah sebuah kasur pelampung di tengah kolam air dingin. Kamu merasakan hangatnya sinar mentari dari atas, dan terlindung dari dinginnya air di bawah. Keluar dari comfort zone tidak berarti kamu lantas menceburkan diri ke kolam. Celupkan tangan kamu, satu jari demi satu jari, lalu satu lengan, lalu ditambah kaki, dan seterusnya. Perlahan namun pasti, comfort zone kamu akan bergeser menjadi “di dalam kolam”.

Dan seperti yang kita semua ketahui, “kolam” jelas lebih besar daripada “pelampung”.

With “bigger comfort zone”, comes “bigger chance”. So… for Pete’s sake, make your comfort zone bigger. Get out of the smaller ones.

Itu poin saya.

*kabur*

 

Manchester itu Merah, Bung!

Saya menulis tulisan ini dengan kesiapan untuk dicibir beberapa orang yang menghina tim kesayangan saya.  Ya, saya menyukai tim berjuluk Setan Merah (atau Red Devil) sejak saya masih mengenakan celana merah.  And that was a long time ago.

Manchester United adalah salah satu entitas yang berperan besar dalam minat saya belajar bahasa Inggris.  Saya ingin memahami komentar-komentar yang ada saat di pertandingan.  Dan saya belajar beberapa kosa kata yang “Inggris banget” seperti “bollocks” dan penggunaan kata “bloody” sebagai sebuah emfasis, juga dari menonton pertandingan Manchester United.

Saya pertama jatuh cinta dengan permainan Manchester United, akibat melihat dua orang yang menurut saya pantas diabadikan namanya menjadi nama jalan di kota Manchester.  Atau paling tidak, nama gang lah.  Dua orang tersebut: Eric Cantona, dan Peter Schmeichel.  Keren bukan?  Pertanyaan “tinggal di mana bro?” dapat dijawab dengan “Jalan XXX gang Cantona”.  Jauh lebih keren daripada nama-nama gang di dekat rumah saya: “Gang Betet”, “Gang Kancil”, “Gang Kodok”, dan saya rasa tinggal menunggu waktu sampai ada “Gang Komodo”.

Why Schmeichel?

Saat itu, di sekolah saya, permainan sepak bola sangat populer.  Saya sama sekali tidak jago bermain sepak bola.  Keluarga saya adalah keluarga yang cukup mahfum dalam berbagai macam olahraga, tetapi sepak bola bukan salah satu di antaranya.  Ayah saya pemain bulutangkis, dan ibu saya pemain voli.  Saya, entah dipungut dari mana, karena lebih menyukai basket (sebelum akhirnya terdampar di voli juga sih).  Hand-eye coordination yang terlatih ini membuat saya didapuk jadi kiper oleh teman-teman saya.  Kebiasaan permainan di SD yaitu kiper berganti setiap kebobolan, tidak berlaku pada saya.  Kata teman-teman saya kala itu, karena saya kiper hebat, kebobolan itu hanya nasib buruk.  Tapi sekarang saya sadar, mereka hanya tidak mau saya menjadi beban bila ikut menyepak bola.

Tapi intinya, Schmeichel waktu itu membuat saya bisa berjalan dengan kepala tegak setiap selesai waktu “keluar main”, karena kiper terbukti bisa menjadi keren.  Gayanya yang temperamental tetapi terlihat berwibawa, terlihat sangat keren (Dan itu pertama kalinya saya lihat kiper maju dan mencetak gol ke gawang lawan.  Saat saya mencobanya di permainan di sekolah, saya dihujat sampai tidak diajak main selama beberapa hari).  Saat itu saya yakin, orang ini bisa jadi idola saya, dan bukan karena wajahnya cocok jadi vokalis Michael Learns to Rock.

Peter-Schmeichel-006
“kiri! kiri! yak oooppp!” #ternyatatukangparkir

Why Cantona?

He. is. a. LEGEND.  

Ada sesuatu di permainannya yang membuat saya yang menontonnya menjadi bergejolak.  Mungkin ini perasaan yang dialami Anego saat menonton Tsubasa di pertandingan Nankatsu vs Toho, atau pengalaman yang dirasakan seorang anak yang suka makan saat menonton Ibu Siska Sumitomo memasak makanan yang secara ajaib keluar dari bawah meja.

Dia bukan pendribel terbaik.  Dia tidak berlari secepat kilat menerobos lawan.  Tapi dia mencetak gol.  Dan terus mencetak gol.  Dan terus mencetak gol.  Dan menendang suporter lawan dengan tendangan kung-fu.

*Break tertawa sebentar mengingat kejadian tendangan kung-fu Eric Cantona*

"kembalikan masa laluku!"
“ngapain kamu love post dia di Path??!!”

Tapi di luar itu, dia keren.  Itu saja.  Misteri mengapa dia mengangkat kerahnya setiap kali bermain, adalah misteri yang sama besarnya dengan pertanyaan “ada apa di balik janggut sinterklas?”

Sejak melihat Cantona, angka 7 di MU selalu lebih keramat bagi saya dibanding angka apapun.  *no offense to number 10 such as Ruud, Wayne, and Teddy*

Why Manchester United?

Kecintaan saya pada Manchester United adalah sesuatu yang cukup absurd, mengingat saya bukan anak yang suka bermain sepak bola.  Saya tidak pernah membeli bola, jersey bola, apalagi sepatu bola.  Tapi kecintaan itu ternyata tidak pernah berhenti, melebihi kecintaan saya pada permen Mr. Sarmento (iya, permen bungkus ungu dengan orang berkumis stang sepeda dan topi sebesar gunung) yang harus berakhir bersamaan dengan terhentinya produksi.  Saya melihat pertumbuhan mereka.  Dari zaman no 7 Cantona yang ikonik, Beckham yang flamboyan, Cristiano Ronaldo yang sangat menyerang, Owen yang post-power syndrome, hingga Valencia yang sampai sekarang belum jelas alasannya mendapatkan nomor 7 (paling tidak, bagi saya), saya nonton pertandingan mereka.  Tidak selalu, karena terkadang terlalu malam untuk saya yang selalu tidur jam 9, tetapi pertandingan-pertandingan ikonik mereka tidak luput dari saya.

Bukan... ini bukan boy band temennya Super 7. apalagi ST12
Bukan… ini bukan boy band temennya Super 7. apalagi ST12

Termasuk drama Final Champions tahun 1999.  Saya tidak menonton kedua gol tersebut, karena saya sudah sedih dan tegang saat MU ketinggalan 0-1 di menit 90, hingga saya terbirit ke toilet.  Saat di toilet selama sekitar 3 menit, saya mendengar dua kali teriakan dari kakak sepupu saya yang juga penonton setia MU.  Teriakan kedua lebih panjang, hingga saya keluar dari kamar mandi dengan terburu-buru, hanya untuk melihat wajah Schmeichel yang waktu itu disorot saat mengangkat trofi, begitu emosional (itu adalah pertandingan terakhirnya bersama United).  Manchester United juara.

his final match.  bye captain!
his final match.
bye captain!

Rasa suka saya pada Manchester United terbukti dengan satu-satunya jersey sepakbola yang saya punyai adalah Manchester United (bertatahkan Robin van Persie dan Wayne Rooney).  Dan satu-satunya poster pemain sepak bola yang pernah saya miliki (sebelum terbawa banjir saat renovasi rumah) adalah Eric Cantona.

Saya bertekad, jika suatu saat bisa ke Inggris, jersey original yang dibeli di “tanah suci” Old Trafford, akan saya pajang menjadi salah satu pajangan utama rumah saya nantinya.  Selain itu, saya ingin mengitari Old Trafford, dan merasakan aura magis yang berulang kali menelan korban tim tamu (meskipun musim 2013/2014 ini sedikit sering menelan korban tim sendiri, saya anggap itu sesuatu yang positif, bahwa daya magis Old Trafford semakin kuat).  Laksana anak kecil rindu pada ibunya saat terpisah di keramaian, mungkin sekuat itulah keinginan saya menghirup udara Old Trafford.

susah-susah dipasang, dicoret-coret kayak mobil kotor. HIH!
this picture still gives me the chill

Why England?

Bagian terakhir ini mungkin tidak ada hubungannya dengan Manchester United, tetapi menjadi sedikit catatan kaki mengapa saya ingin ke Inggris:

1.  Untuk saya yang hanya fasih berbicara dalam bahasa Inggris dan Indonesia, Inggris dan Amerika Serikat adalah dua tempat yang saya paling berani datangi, karena semua orang berbicara bahasa Inggris (dan saya ingin mendengar dialek British English yang seksi itu didendangkan wanita-wanitanya, pasti cihui).

2.  Keinginan saya merasakan aura sepakbola yang kental (di Indonesia juga kental sih, tapi keributan-keributan yang terlalu sering terjadi membuat saya lebih memilih menonton highlights pertandingannya saja).

3.   Studio Harry Potter.  I loved that movie.  Why?  1.  Emma Watson.  2.  Emma Watson.  3.  Hermione Granger.  (Just kidding, i love Luna Lovegood, too!).  Eh tapi serius, ini salah satu film (dan novel) yang tumbuh bersama saya.  Cukup emosional.

 

Sihir saya kak, sihir!
Sihir saya kak, sihir!

4.   The birthplace of many great musicians that i adored: The Beatles, Oasis, Coldplay, Radiohead, and The Script.  Iya, One Direction gak masuk daftar *dihajar*.

5.  OLD TRAFFORD.  Maaf, saya bilang bagian terakhir ini tidak ada hubungannya dengan Manchester United, ternyata ada juga.  KARENA MANCHESTER ITU MERAH, BUNG!

So yeah, England is one place i definitely want to visit. Make it happen, will you, @MisterPotato_ID? :’)

Red on Green Mister, take me to Old Trafford!
Red on Green
Mister, take me to Old Trafford!