Bisakah Saya Berkontribusi?

Jakarta, Indonesia, bahkan Dunia, memiliki banyak sekali masalah.
Banyak hal yang membuat saya berpikir bahwa mungkin kita yang hidup di bumi saat ini ditakdirkan menjadi generasi terakhir yang akan menghuni batu besar ketiga dari matahari ini.

Akan tetapi, saya harus mengakui bahwa belakangan ini ada begitu banyak inisiatif yang berusaha “mengembalikan fitrah” bumi ini untuk menjadi tempat tinggal yang lestari, bukan hanya untuk generasi kita, tetapi juga untuk anak cucu kita.

Saya ingin berkontribusi.

Tetapi awalnya memang terkesan bahwa inisiatif-inisiatif “besar” tersebut seolah tidak terjangkau oleh saya. Ada tim yang berusaha menambal lubang ozone, ada tim yang berusaha menghentikan kelaparan di benua Afrika, dan sebagainya. Untungnya, saya menemukan artikel ini . Ternyata, saya bisa berkontribusi dari hal-hal kecil.

Saya mulai membiasakan menekan tombol flush kecil di kloset, saya mematikan keran setiap kali menggosok gigi, dan sebagainya. Terkesan kecil, tetapi selama saya bisa berkontribusi, saya cukup bahagia.

Bagaimana dengan sekitar kita?

Salah satu masalah terbesar di Jakarta, kota yang saya tinggali selama 28 tahun, adalah kemacetan. Saya rasa kita bisa menyetujui hal ini. Lalu, pertanyaan sejuta dolar pun muncul lagi: Dapatkah saya berkontribusi juga tentang masalah ini?

Saya sangat jarang menyetir. Saya secara sengaja pindah ke tempat kos yang hanya sejarak jalan kaki dari kantor, agar tidak perlu mengeluarkan ongkos lagi. Hal yang awalnya hanyalah berdasarkan alasan ekonomis, tetapi ternyata membantu juga. Kemudian, beberapa hari yang lalu, saya melihat video dari Andira Pramanta, judulnya saja sudah sangat provokatif: “Solusi Macet Jakarta”. Tonton videonya di sini: https://www.youtube.com/watch?v=-M-wLfLwryw.

Salah satu bagian yang penting di sana adalah: “Pilihan hanya dua: beradaptasi, atau menjadi solusi”. Video ini adalah pertama kalinya saya mengenal tentang GrabHitch. Meskipun sebelumnya sempat ada beberapa activation di media sosial, ini pertama kalinya saya sungguh tertarik.

Terima kasih, Andirdor.

Jadi, apa itu GrabHitch?
Sebuah layanan yang memungkinkan pengemudi motor untuk “menyewakan” kursi kosongnya kepada orang lain. Meskipun dibilang “hitching” (menebeng), tetapi ada bayaran yang diterima. Daripada kursi kosong, lebih baik diutilisasi, bukan?

Beberapa fitur yang membuat saya tertarik sebagai penumpang:
– Pemesanan bisa dilakukan dari 7 hari sebelum keberangkatan, hingga 30 menit sebelum keberangkatan.
– Ada opsi “same-gender”, sehingga memastikan para wanita mendapatkan pengendara wanita juga (jika memilih demikian), dan para pria juga mendapatkan pengendara pria. Buat saya, ini cukup membantu karena saya berbadan besar, sehingga terkadang tidak enak hati bila mendapatkan pengemudi perempuan. Karena manuver-manuvernya jadi jauh lebih berat, nggak tega.

Beberapa fitur yang membuat saya tertarik sebagai pengemudi:
– Tidak ada perjalanan yang sia-sia, karena kursi kosongnya bisa disewakan. Apalagi jika rutenya setiap hari dilewati.
– Bisa mendapat teman baru. As much as people might be skeptical about this, saya beneran dapat teman baru dari naik GrabBike. Nantikan cerita saya soal ini di Twitter. :))

Harapan saya, ini bisa menjadi bentuk kontribusi kita terhadap masalah kemacetan, dan masalah pelestarian alam.

Btw, kalau mau daftar GrabHitch, bisa ke http://bit.ly/GrabHitchID ya.

Don’t start by saying “I can’t”, but start by saying “can i?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *