My Passion is Life

“Passion loe apa?”

Pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab setiap orang dalam hitungan detik ini, ternyata menjadi pertanyaan tersulit untuk gue jawab dalam sebuah “interview” dengan sebuah brand beberapa hari sebelum ini.

Kenapa?
Karena saat itu gue tiba-tiba berpikir, bahwa gue nggak tau passion gue apa. Setelah lebih dari seperempat abad gue hidup di dunia ini, dan nyaris satu dekade gue memasuki dunia kerja, gue nggak tau passion gue apa.

What.
The.
Frack.
*cue SFX gelas pecah dibanting*

Sejak umur 13 tahun, selama kira-kira 10 tahun, gue berkecimpung di pemrograman, dari lomba-lomba, project-project, sampai ke pekerjaan full-time. Dan gue sangat suka programming, karena gue merasa bisa memanfaatkan sisi kreatif gue tanpa membuang sisi logis.

Lalu gue masuk ke 2009, di saat gue belajar fotografi, dan “kecemplung” sampai jadi fotografer dan videografer yang dibayar secara profesional. Seingat gue, sampai tahun 2014 pun gue masih menerima gig untuk memotret di acara-acara. Dan gue nggak mungkin sampai sejauh itu kalau nggak suka, right?

Sejak TK, gue selalu tertarik dengan musik, tapi gue nggak pernah benar-benar masuk ke dunia musik sampai tahun 2010, saat gue berani untuk benar-benar mulai membuat lagu, membuat karya, dan membuat musik. And i always come back to music ever since.

Berlanjut ke tahun 2011, di mana gue menemukan suatu “kesukaan” baru dalam dunia standup comedy. Dari open mic, standup show bersama komunitas, tampil di TV, sampai berhasil “mencoba” menyambangi skena standup comedy di Malaysia, gue nggak pernah menyesal sedetik pun.

Di luar itu, kesukaan gue terhadap berbagai hobi-hobi lain seperti boardgame, menulis, sampai dunia digital, nggak pernah berhenti.

Makanya pertanyaan di kalimat pertama tadi menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk gue jawab. Sedikit lebih sulit dari pertanyaan “ada apa di balik jenggot Sinterklas?”

Btw, jawabannya adalah “jenggot lain yang lebih pendek dan berwarna hitam”.

Oh kalo jawaban untuk pertanyaan “Passion loe apa?” tadi, gue mengeluarkan jawaban sebagaimana di judul tulisan ini. Mungkin terdengar klise, tapi itu yang gue rasakan.

Sinonim terdekat yang bisa gue temukan untuk kata “Passion” dalam bahasa Indonesia (yang artinya sesuai ya), adalah “kecintaan”. Memang terjemahannya adalah “hasrat”, tapi nggak nyambung, ah. *ditabok*. Tapi buat gue, kecintaan itu gue temukan di dalam hidup.

Yang menjadi kecintaan gue adalah hidup. Semua aspek dalam hidup, dari yang seru, yang membosankan, yang menyenangkan, yang menyedihkan, dan lain-lain. SEMUA. Karena itu, setiap harinya, yang gue lakukan adalah membuat hidup gue lebih seru dan lebih menyenangkan.

Ada tiga hal yang gue pelajari untuk membuat hidup lebih seru:
– Meet new people,
– Make new ideas,
– Do new things.

Temui orang-orang baru, karena dengan demikian kita akan bisa dapat ide-ide baru. Dari ide-ide tersebut, cari yang feasible untuk dilakukan, lalu lakukanlah. Terdengar susah-susah gampang, tapi kalau udah dilakukan, bikin kecanduan. Serius.

Okay, i’m rambling again.
But this is basically what i want to say: It’s okay to not HAVE a passion, or to not KNOW your passion, but it is not okay to DENY your passion.
Gue memilih untuk menerima kenyataan bahwa passion gue ada banyak, meskipun beberapa orang bilang gue “maruk” atau “serakah”. Tapi kalau kenyataannya memang demikian, ya jangan disangkal.

We only have one life, live it, and live it gracefully.

Jadi, passion loe apa? :)

One thought on “My Passion is Life”

  1. saya jd teringat suami. he is good in programming but he loves singing . saat ini dia harus tunda dulu kembali belajar vokal & performance art, tp kpn2 kita perlu ngobrol menclak menclok antara IT&music di deket2 gedung chandra ya 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *