Review: Blackbox (@RachelTjhia)

Sejujurnya, saya tidak pernah sebegitunya menyukai lagu-lagu “idol”.  JKT48, misalnya.  Selain Heavy Rotation yang sangat ikonik dengan lirik “i love you, i want you,” saya bisa dibilang tidak tahu sama sekali lagu-lagu mereka.  No offense to you who does love them, tho.  They are great performers. :)

BTW,
Pertengahan bulan Juli, teman-teman dari Happy Kingdoms Inc. membuat sebuah acara, HKFest, di mana para idol-idol ini men-showcase performa mereka: dari kemampuan bernyanyi, MC, hingga fan servicing.  Sekali lagi, dari nama-nama yang tampil, saya tidak pernah dengar sama sekali.  Apparently, pengetahuan saya tentang idol dan idol group di Indonesia sangat minim.  Tapi ada satu nama yang cukup familiar: Rachel Florencia.  Beberapa kali jadi penyiar tamu di acara salah satu radio di Jakarta, dan sering kali tampil bersama teman saya Rangga, membuat nama ini tidak asing bagi saya.  Maka, ketika Mario (@fxmario) men-twit sebuah link tentang pembelian CD-nya, saya tertarik mencoba.  Pembelian dilakukan melalui sebuah marketplace, pembayarannya mudah, dan pengirimannya cukup cepat.  Overall: proses pembelian berjalan lancar.  Paling tidak, setengah langkah sudah selesai dengan baik.

Next, saat melihat CD-nya, saya langsung teringat dengan gambar-gambar manga.  Tebakan pertama saya: pasti lagunya jejepangan.  Lanjut ke judul-judulnya: “Overture (Turbulence)”, “Blackbox”, “1000 Tahun Cahaya”, “Sisa Ceritaku”, dan “Edna’s Music Box”.   Entah mengapa, saat membaca judul-judul ini, saya merasa sedikit janggal.  Bahasa Indonesia, bercampur Bahasa Inggris.  Juga, ada dua kata Box di sana.  Apakah Blackbox (kotak berwarna hitam) itu sebenarnya Kotak Musik milik Edna?  Oke, mungkin saya berlebihan.  Perasaan berikutnya adalah penasaran, karena paling tidak ada tiga pertanyaan utama: kenapa 1000 tahun cahaya?  Kenapa Blackbox?  Dan siapa Edna?

So, dig in, we shall!

Overture (Turbulence): lagu ini hanya instrumental, dan berhasil mengawali CD ini dengan permainan string section yang terdengar sangat grande, dan di beberapa bagian terdengar sentuhan yang sangat fairytale-ish.  Sejujurnya, saya kurang paham kenapa ada lagu ini, karena kurang nyambung dengan lagu keduanya.  Beda dengan lagu pertama di album Mylo Xyloto milik Coldplay, misalnya.  Saking “flawless”-nya perpindahan dari instrumental lagu pertama dengan lagu kedua, saya yakin sebenarnya ini adalah lagu yang sama, tapi di-cut seenaknya.

Blackbox: Awal lagu ini agak mengganggu saya, karena saya bersiap-siap untuk lagu upbeat, tetapi dipotong tiga kali sebelum benar-benar masuk ke flow lagu, dan dua kali di antaranya adalah total silence.  Keren sih ada silence-silence gitu, tapi untuk awal lagu kayaknya agak janggal aja. Lagunya ceria sekali, dan suara Rachel sangat “empuk” (bingung harus pakai kata apa) untuk lagu ini.  Suaranya tinggi khas remaja putri, cocok dengan keceriannya.  Dan akhirnya saya tahu kenapa lagu ini dijuduli “Blackbox”.  Analogi yang bagus, dan kalimat penutup chorusnya sangat-sangat catchy.

Seribu Tahun Cahaya: Saya pernah melihat versi live dari lagu ini, meskipun hanya cuplikan.  Saya yakin lagu ini enak.  Dan ternyata, saya benar.  Lagu ini enak, dan rasanya sangat cocok dijadikan OST Anime (yang sudah di-dubbing Indonesia, tentu saja; kecuali Rachel membuat versi Jepangnya).  Saya sedikit terganggu dengan pemotongan suku-suku katanya, tetapi sepertinya ini jamak terjadi di kalangan para idol, ya?  Contoh: “meski de-daunan musim gugur me-nutupi taman ini – mataku takkan ber- kedip”.  Mungkin seharusnya tidak mengganggu bagi kebanyakan orang, tetapi buat saya sedikit mengganggu. Soal selera, mungkin.

Sisa Ceritaku: Lagunya cukup mellow, tetapi dengan aransemen full band-nya, tidak terlalu terkesan sedih.  Lebih seperti lagu “acceptance” bahwa sebuah cerita sudah berakhir.  Lagu ini mengingatkan saya pada lagu-lagu penutup di Anime (iya, kalau Seribu Tahun Cahaya tadi lagu opening, ini lagu ending).  Yang saya salutkan adalah, lagu ini memiliki beberapa progresi yang mengejutkan untuk saya.  Sama sekali bukan lagu yang sederhana, meskipun terdengar paling “pop” dibanding lagu-lagu lainnya.

Edna’s Music Box: Ternyata, ini lagi-lagi adalah sebuah lagu instrumental.  Dengan gaya music box, seperti tergambar pada judulnya, lagu ini berisi petikan singkat dari lagu Seribu Tahun Cahaya, kalau saya tidak salah dengar.  Lagu ini seolah menjadi statement bahwa lagu Seribu Tahun Cahaya adalah “core” dari album ini.  Sebenarnya saya kurang paham kenapa harus ada dua lagu instrumental pendek dalam satu CD, tetapi mungkin untuk alasan keseimbangan CD saja (diawali dan diakhiri instrumental).

Overall, CD ini cukup menyenangkan untuk didengar.  Jika akan dikembangkan jadi sebuah album full, saya akan sangat tertarik untuk mendengar lebih jauh.  Tentunya dengan adanya lagu-lagu yang berbeda-beda dinamika, akan semakin seru untuk dinikmati.

Kudos untuk Rachel!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *