Yes, I Started Investing!

Yap,

akhirnya, setelah sekian lama berpikir, mempertimbangkan, dan mencari informasi, gue memutuskan untuk berinvestasi. Iya, investasi, bukan menabung.

Emang beda? Apa sih bedanya?

Okay, sejujurnya, sebelum gue ngobrol-ngobrol dengan Mbak Ligwina Hananto (@mrshananto), gue nggak tau sama sekali tentang investasi.  Gue tau ada grafik-grafik saham yang menunjukkan indeks atau nilai saham, tapi itu pun karena ada di halaman koran yang persis berlawanan dengan bagian olahraga.  Tapi karena beliau selalu tanpa kenal lelah men-twit mengenai investasi dan pentingnya mengatur keuangan sendiri, gue akhirnya semakin dan semakin tertarik. Dan akhirnya gue tertarik, lalu gue set ketemuan dengan Mario (salah satu “sales” dari QM Financial, perusahaannya Mbak Ligwina).

Setelah dua kali meeting, gue memutuskan menggunakan jasa financial advisory dari QM Financial.  Dan setelah itu, selama tiga kali meeting, gue “di-drill”, harus ngerti minimal dasar-dasar berinvestasi, membedakan saham, reksadana, pasar uang, dll, bahkan sampai di-tes, profil risiko gue gimana (apakah risk taker, atau konservatif) untuk akhirnya menentukan produk yang mungkin lebih cocok dengan gue.

OH! Ada satu bagian yang menurut gue paling “worth it” – financial check up.  Gue tau banyak artikel yang bisa ditemukan di Google dengan judul kira-kira “cara mengetahui apakah keuanganmu bermasalah” atau sejenisnya, tapi having a professional do it, is a whooooooole different thing.  Cuma tinggal isi-isi excel document, lalu ketauan lah sebenarnya uang kita ke mana, perlu berapa, dll.  Honestly, ini pertama kalinya gue bener-bener mikirin kata-kata seperti “dana pensiun”, “dana darurat”, dll.

Di bagian ini, adalah bagian yang “terpenting” dalam keseluruhan proses: menentukan rencana finansial.  Gue memberikan beberapa “goal” dan “deadline”-nya.  Misalnya: Gue mau punya mobil dalam waktu 2 tahun, dan rumah dalam waktu 4 tahun.  Maka, dengan data dan informasi yang sudah dimiliki, gue dan Mbak Wina mendiskusikan cara mencapainya.  CONTOH: untuk membeli mobil seharga 200 juta dalam 2 tahun, gue harus menabung 200jt/24bulan = 8~9 juta per bulan.  Mohon maaf, tapi bunga bank harus sedikit gue abaikan karena jumlahnya tidak sesignifikan itu.  TAPI, kalau mau mencapai 200jt dalam 24 bulan, dengan reksadana saham X (gue nggak akan nyebut namanya) yang dalam 3 tahun terakhir memberikan return 15-20% per tahun (dan diasumsikan selama dua tahun berikutnya juga akan segitu), maka gue hanya perlu menabung sekitar 6~7 juta per bulan.  Perbedaan yang cukup signifikan, bukan?

Dalam proses ini, gue diedukasi tentang angka-angka yang ditunjukkan: NAV (mudahnya, ini adalah nilai atau harga sebuah unit reksadana), AUM (aset atau total uang yang dikelola reksadana tersebut), return (yang ini nggak usah dijelasin lah ya?), dll.  Dan setelah melihat dan mempelajari, gue memilih (iya, gue memilih sendiri, seru lho) beberapa reksadana yang gue inginkan, tentunya setelah berdiskusi tentang jumlah yang bisa gue investasikan dan alokasikan.

Setelah selesai semuanya, Mbak Wina masih set satu sesi lagi untuk bertemu langsung di bank, untuk langsung membuka rekening reksadana gue.

And that’s it.  I am an investor.  Cepat, ya?

Now let me drop a few knowledge i’ve gotten through the process.

–  Investasi tidak bisa dilihat murni sebagai tabungan.  Tabungan ya nabung, nyari aman.  Investasi ya nyari untung.  Kalau tujuan kamu adalah supaya tidak kehilangan uanglebih baik taruh deposito.  Kalau tujuan kamu adalah mendapatkan keuntungan, ya investasi.

–  Some people are risk takers, some are not.  High risk MIGHT yield higher profit.  Tapi ingat, tidak ada yang PASTI.

–  Reksadana (Mutual Fund) BERBEDA dengan saham.  Gue berusaha memahaminya seperti ini: saham adalah “kepemilikan” atas SATU instrumen investasi: sebuah perusahaan, sementara reksadana adalah “kepemilikan” atas BANYAK instrumen investasi sekaligus (pasar uang, saham, obligasi, dll), dengan bank kustodian sebagai penyimpan uangnya.  Pembelian reksadana dilakukan melalui bank.  Satu reksadana BISA terdiri dari beberapa instrumen investasi.

Let me explain this in a metaphor:

Saham, bisa dianggap seperti bahan makanan.  Misalnya: Saya beli telur seharga 1000 rupiah.  Besok, telur tersebut seharga 1100.  Saya jual, saya untung 100.

Reksadana, bisa dianggap seperti masakan jadi.  Misalnya: saya beli telur seharga 1000, saya beli beras seharga 3000, saya beli kecap seharga 2000, kemudian saya masak menjadi nasi goreng telur sebanyak 3 porsi.  Maka, masing-masing porsi akan seharga 2000 rupiah.  Jika saya jual di saat harga nasi goreng 2100, saya untung 100.  BEDANYA, jika harga telur naik 100 menjadi seharga 1100, saya tidak langsung untung 100 rupiah per porsi nasi goreng, karena harga nasi goreng itu sudah tercampur antara banyak bahan makanan.

LEGENDA: Bahan makanan adalah instrumen investasi, harga bahan makanan adalah harga instrumen investasi, harga nasi goreng telur adalah harga per unit (atau yang disebut sebagai NAV).

BTW, i got these knowledge while learning for myself, kalau ada kesalahan, feel free to correct me. :)

Kalau mau nanya lebih lanjut, boleh.  Mau langsung ke Mbak Ligwina juga bisa, langsung aja ke @MrsHananto.

Setelah ini, gue juga bakal nulis tentang berinvestasi di pasar modal, yang ternyata nggak sesulit yang dibayangkan.  Ditunggu, ya! :p

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *